Hari Kedua SPMB di Semarang, Verifikasi Akun Masih Jadi Kendala Orang Tua

PROSES: Posko pelayanan SPMB di SMA Negeri 3 Semarang, Selasa (23/6/2026). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Hari kedua pelaksanaan daftar ulang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Semarang masih diwarnai dinamika pemahaman calon peserta didik dan orang tua terkait tahapan pendaftaran. Sejumlah sekolah mencatat masih adanya orang tua yang datang ke sekolah meski tahapan verifikasi akun telah ditutup.

Di SMAN 3 Semarang, Wakil Kesiswaan, Achmad Fauzan menyebut masih terjadi kekeliruan pemahaman terkait pengajuan akun yang dianggap sudah otomatis menjadi pendaftaran. Padahal, proses tersebut masih harus melalui tahapan verifikasi sebelum bisa digunakan untuk mendaftar sekolah.

“Pengajuan akun itu sudah dianggap mendaftar. Saya menyampaikan ini karena Senin (22/6/2026) di saat verifikasi itu sudah ditutup, ada orang tua yang ke sini bilang, ‘Pak, saya mau verifikasi,’ padahal verifikasinya sudah tutup,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Ia menambahkan, masih ada orang tua yang terlambat memahami alur sistem pendaftaran, sehingga tidak dapat melanjutkan proses karena tahapan verifikasi sudah terlewati.

“Jadi kemudian saya kulik lagi, kenapa kok bisa belum verifikasi. Setahu saya sesudah mengajukan akun ada bukti ajuan akun itu sudah mendaftar. Dikiranya sudah verifikasi, padahal itu baru tahapan kedua, sehingga ada tahap yang terlewat,” jelasnya.

Fauzan menyebut, di SMAN 3 Semarang terdapat sekitar 480 peserta yang telah melakukan verifikasi akun, dengan kuota penerimaan sebanyak 432 kursi. Namun, jumlah tersebut tidak seluruhnya berakhir mendaftar di sekolah yang sama karena sistem memungkinkan pilihan sekolah lain.

Sementara itu, di SMAN 1 Semarang, pihak sekolah juga mencatat dinamika serupa. Terutama pada jalur prestasi dan domisili yang masih dipengaruhi kuat oleh sistem berbasis nilai TKA dan rapor. Pihak sekolah menegaskan seluruh proses sudah berjalan secara digital dan tidak membuka ruang intervensi di luar sistem.

Ketua Panitia SPMB SMAN 1 Semarang, Budi Handoyo, menegaskan bahwa seluruh proses seleksi dilakukan berbasis sistem. Sehingga, tidak ada praktik titip-menitip maupun jalur khusus di luar ketentuan yang berlaku.

“Ya, sekarang kalau enggak kuat TKA memang berat. Piagam tinggi tapi TKA rendah tetap tidak bisa mengangkat, karena bobotnya 50 persen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sistem seleksi tahun ini menggabungkan nilai rapor dan TKA masing-masing 50 persen, sehingga menjadi faktor penentu utama dalam jalur prestasi. Selain itu, proses penerimaan juga berjalan transparan tanpa intervensi pihak luar.

“Sekarang by system, jadi tidak ada titip-menitip. Jalurnya hanya itu saja, dan semua murni sesuai sistem yang sudah ditentukan,” tegasnya. (hfh/gih/rds)