Peer Group Remaja Siaga Dibentuk, Cegah Pernikahan Dini dan Stunting di Bandarharjo

SUASANA : Program Pengabdian Masyaarakat Poltekkes Semarang dalam pembentukkan Peer Group Remaja Siaga untuk Cegah Pernikahan Dini dan Stunting di Bandarharjo. (DOK/JOGLO JATENG).

SEMARANG, Joglo Jateng – Tingginya angka pernikahan dini menjadi salah satu penyumbang utama masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

Kehamilan pada usia muda menghadirkan risiko tinggi, mulai dari komplikasi ibu hingga risiko stunting pada bayi.

Di Kelurahan Bandarharjo, tercatat 44 balita mengalami stunting sepanjang tahun 2023.

Kondisi ini mendorong adanya intervensi nyata dari berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang sepenuhnya dibiayai oleh Poltekkes Kemenkes Semarang.

Tim Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) Poltekkes Kemenkes Semarang yang beranggotakan Drs. Ngadiono, S.Kp, Ners, MH.Kes, Dewi Andang Prastika SST, Bdn., M.Kes, dan Sri Setiasih S.SiT. Bdn., M.Kes menginisiasi pembentukan Peer Group Remaja Siaga Cegah Pernikahan Dini.

Program ini turut melibatkan mahasiswa Ani Himawati, Citra Retno Falupi, dan Salma Azahra.

Menurut Ketua Tim, Ida Ariyanti, kegiatan ini bertujuan membentuk agen remaja yang mampu menyampaikan pesan edukatif seputar risiko pernikahan dini dan dampaknya terhadap stunting.

“Dengan pendekatan yang setara dan menyenangkan, remaja diharapkan lebih mudah menerima pesan-pesan penting tentang pernikahan sehat dan perencanaan keluarga dapat secara langsung maupun tidak langsung misalnya melalui media sosial salah satunya Instagram yang dapat dilihat melalui akun @remajasiagabandarharjo,” ujarnya.

Program yang digelar pada Sabtu, 2 Agustus 2025 ini diawali dengan identifikasi remaja sasaran, dilanjutkan penyusunan materi edukatif dalam bentuk buku saku digital, serta koordinasi dengan pihak kelurahan, Karang Taruna, dan kader kesehatan.

Buku saku berisi informasi tentang bahaya pernikahan dini, risiko kehamilan usia muda, serta cara mencegah stunting melalui perencanaan kehamilan dan keluarga.

“Edukasi diberikan langsung oleh peer group di tiap RW, sekaligus difasilitasi untuk disampaikan melalui media sosial agar menjangkau lebih banyak remaja,” terang Ida Ariyanti.

Setelah pelaksanaan, tim melakukan monitoring dan evaluasi pada Minggu, 9 Agustus 2025 untuk mengukur perkembangan dan kesinambungan program.

Hasil konkret dari kegiatan ini tidak hanya berupa buku saku ber-ISBN/HAKI dan dokumentasi video, tetapi juga peningkatan kesadaran remaja akan pentingnya pernikahan sehat.

“Harapannya, Kelurahan Bandarharjo bisa menjadi role model wilayah bebas stunting, dimulai dari gerakan remaja yang berdaya,” pungkas Ida Ariyanti.(luk).