Figur  

Sandy Ria Ervinna, Mahasiswi Vokal yang Menjadi Pionir Biola Campursari

Sandy Ria Ervinna. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

PERJALANAN karier Sandy Ria Ervinna membuktikan bahwa musik bukan sekadar bakat, tetapi juga soal keteguhan hati dan keberanian mengambil jalan berbeda. Dari seorang mahasiswi vokal di Fakultas Seni Pertunjukan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Sandy kini dikenal sebagai pemain biola solo dengan genre campursari dan koplo yang unik.

Awalnya, Sandy memilih jalur vokal selama 4 semester. Namun karena persaingan yang ketat, ia beralih ke instrumen string, menjadi satu-satunya mahasiswa biola di angkatannya pada tahun 2011. Perubahan itu membuatnya harus mengulang kuliah hingga akhirnya lulus pada 2017.

“Walaupun terlambat lulus, pilihan itu justru yang menjembatani saya mencari rezeki di kemudian hari,” ujarnya, belum lama ini.

Setelah sempat mengajar di sekolah swasta di Ungaran selama dua tahun, Sandy memutuskan untuk serius menekuni dunia musik. Keputusannya berbuah manis pada 2019, ketika ia dipertemukan dengan maestro campursari Didik Kempot di Pati. Pertemuan itu membuka jalan kolaborasi, dan sejak saat itu Sandy kerap tampil di panggung bersama “Sobat Ambyar”.

“Dalam sebulan kami bisa manggung sampai 40 kali, bahkan sehari bisa empat kali. Itu masa-masa luar biasa,” kenangnya.

Namun, pada 5 Mei 2020, duka mendalam datang saat Didik Kempot wafat. Sandy kehilangan sosok panutan sekaligus bos yang mengangkat kariernya. Meski terpukul, ia memilih bangkit dengan melanjutkan karya maestro melalui nyanyian dan permainan biola. Ia juga aktif di YouTube untuk menjaga eksistensi.

Nama Sandy kembali mencuat pada 2024 lewat kolaborasi dengan Gilga Sahid. Ia mengaku keputusan mengambil jalur biola solo dengan genre koplo dan campursari bukan tanpa alasan.

“Saya dulu tidak diajak masuk orkestra karena kurang mahir baca not balok. Tapi saya percaya musik tidak hanya klasik. Ada jaz, pop, campursari. Dari situlah saya memilih jalur berbeda,” katanya.