Kudus  

Kisah Yuli Astuti: Selamatkan Batik Kudus dari Kepunahan dan Jadikan Batik Sebagai Jembatan Inklusi

AJARKAN: Owner Muria Batik ajarkan pekerja disabilitas membatik di rumah produksi, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Tentu tidak mudah. Yuli menghadapi tantangan dari bahasa, mood swing, hingga tangis anak-anak yang merasa tidak disapa oleh temannya. “Saya punya anak yang tiap hari bisa tiba-tiba nangis, karena merasa nggak diajak ngobrol. Tapi ya itu, ketika mereka diberi perhatian dan cinta, hasilnya luar biasa,” katanya.

Muria Batik Kudus kini meroket. Buktinya, batik folklor khas Kudus yang penuh cerita rakyat itu sudah melenggang di pameran-pameran internasional dari Malaysia, Brunei, Thailand hingga Singapura.

“Alhamdulillah, sejak jadi mitra binaan Pertamina 2017, kami makin berkembang. Bukan cuma dibantu di pemasaran, tapi juga pelatihan manajemen dan branding,” terangnya.

Batik klasik kini menemukan pasar yang tepat. Sementara batik kontemporer menjangkau masyarakat luas. “Satu kain batik itu kan digarap banyak tangan. Di setiap kain ada jejak tangan anak-anak SLB. Mungkin satu anak hanya mengerjakan satu motif kecil tapi itu membuat kainnya jadi lebih hidup. Lebih bermakna,” bebernya.

Kini, ia menyaksikan keajaiban setiap hari. Anak-anak yang dulu tak percaya diri, kini berdiri gagah mengenakan batik hasil desainnya sendiri. “Saya pernah lihat orang tua mereka sampai menangis. Bukan karena sedih, tapi haru. Karena anak mereka akhirnya punya arah. Punya karya. Punya masa depan,” imbuhnya

Yuli berharap, batik Kudus akan terus berkembang, sebagai warisan budaya dan jembatan inklusi. “Mereka bukan beban, Mereka cahaya. Kalau kita mau lihat dan sabar menyalakan,” tegasnya. (uma/sam)