Ia juga menyampaikan pesan dari Kepala Bapanas agar seluruh pihak mematuhi petunjuk teknis penyaluran, serta menjaga keseimbangan harga telur di pasaran agar tidak menimbulkan gejolak di kalangan konsumen.
Dari Satgas Pangan Pusat, Kompol Hendra Krisnawan menegaskan bahwa penyaluran jagung SPHP harus sesuai peruntukannya.
“Program ini menggunakan dana negara, jadi jangan sampai ada penyimpangan. Satgas tidak akan segan menindak jika ada pelanggaran,” tegasnya.
Hendra juga memberikan apresiasi kepada KPUS karena mampu menjaga harga sesuai ketetapan pemerintah.
Jagung SPHP disalurkan ke anggota dengan harga Rp5.400 per kilogram, dan harga tersebut konsisten di delapan kabupaten tempat anggota KPUS berada.
Sementara itu, Dwi Yuniarko, Manajer OPP Bulog Jawa Tengah, menjelaskan bahwa stok jagung SPHP di provinsi ini baru mencapai 10 persen dari total kebutuhan peternak sesuai SK Bapanas.
“Kebutuhan jagung untuk peternak di Jawa Tengah akan dipasok dari NTB dan Sulawesi Selatan. Insya Allah mulai minggu depan sudah mulai masuk,” ujarnya.
Dwi menambahkan, kerja sama antara Bulog dan KPUS sudah terjalin lama dan berjalan baik. Pihaknya berkomitmen memenuhi kuota penyaluran sesuai SK Bapanas hingga akhir Oktober mendatang.(ags)










