KUDUS, Joglo Jateng – Menyambut Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 yang jatuh pada 12 November 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mulai menggelar berbagai kegiatan edukatif yang menyasar pelajar kususnya remaja putri. Salah satu kegiatan Aksi Bergizi, yang fokus pada pembiasaan sarapan sehat dan konsumsi tablet tambah darah (TTD) di kalangan pelajar tingkat.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo menyampaikan, kegiatan ini bertujuan membentuk kebiasaan sehat sejak dini. Yakni untuk menyongsong generasi emas 2045.
“Kita biasakan siswa-siswa SMP untuk sarapan bergizi di pagi hari, dengan makanan yang fresh, bukan makanan olahan atau mengandung pengawet. Selain itu, remaja putri juga kita dorong untuk rutin minum tablet tambah darah,” ungkapnya Selasa, (14/10).
Ia menambahkan, pemilihan lokasi kegiatan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran seperti SMP 1 Undaan. Tujuannya untuk menyentuh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya yang di pusat kota.

“Kita ingin kegiatan ini juga dirasakan oleh sekolah-sekolah di wilayah pinggiran. Sasarannya luas dan sekolahnya sangat antusias,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya mengonsumsi makanan yang dimasak segar. Utamanya makanan yang disediakan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Makanan yang diberikan itu harus dikonsumsi dalam 4 jam setelah matang. Jangan dibawa pulang karena bisa basi, terkontaminasi bakteri, dan berbahaya jika dikonsumsi kemudian,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat DKK Kudus, dr. Edi Kusworo, MM menjelaskan, Aksi Bergizi merupakan upaya strategis untuk menekan angka anemia di kalangan remaja putri. Hal tersebut kerap terjadi karena kekurangan zat besi.
“Tablet tambah darah itu diberikan bukan hanya untuk dibawa pulang, tapi harus diminum secara rutin. Paling tidak seminggu sekali. Ini penting untuk persiapan masa depan mereka, terutama saat mereka hamil nanti,” ujarnya.
Ia menambahkan, anemia pada remaja akan berdampak jangka panjang. Termasuk saat masa kehamilan kelak.
“Banyak kasus ibu hamil di Kudus mengalami anemia. Kita harus mulai dari remaja agar risiko saat melahirkan bisa ditekan,” tegasnya. (uma/fat)










