SEMARANG, Joglo Jateng – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah menilai banjir yang melanda Kota Semarang selama hampir dua pekan terakhir masih tergolong kategori sedang. Meski genangan mulai surut, potensi bencana serupa diperkirakan masih akan terus terjadi, terutama memasuki awal tahun depan.
Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, saat ini wilayah Jawa Tengah tengah memasuki masa transisi dari kemarau ke musim penghujan. Pada periode ini, hujan deras disertai angin kencang kerap terjadi dan berpotensi menimbulkan bencana.
“Kalau dari informasi BMKG, puncak musim hujan akan terjadi pada Januari–Februari. Sekarang ini masa transisi, jadi hujannya deras dan anginnya kencang. Banyak laporan pohon tumbang dan genangan air di berbagai wilayah,” ujar Bergas, Rabu (5/11/2025).
Bergas menjelaskan, banjir yang terjadi di Semarang pada akhir Oktober hingga awal November ini masih tergolong ringan hingga sedang. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum sepenuhnya aman karena sistem pengendalian air di beberapa titik masih perlu diperkuat.
“Kategori banjirnya masih ringan-sedang. Tapi sistemnya memang harus diperbaiki, terutama kolam retensi yang berfungsi menyeimbangkan aliran air ke wilayah kota,” imbuhnya.
Menurutnya, BPBD bersama instansi terkait telah melakukan kajian ilmiah untuk memperkuat sistem pengendalian air di daerah-daerah rawan. Hanya saja, percepatan pembangunan dan perbaikan fasilitas seperti saluran air dan kolam retensi perlu segera dilakukan agar sistem tersebut bekerja optimal.
Selain potensi banjir, Bergas juga mengingatkan ancaman cuaca ekstrem lain seperti longsor, terutama di wilayah perbukitan. Warga diimbau menutup retakan tanah dan rutin memeriksa kondisi lingkungan sekitar untuk menghindari longsor susulan.
“Cuaca ekstrem ini masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Kami imbau pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat tetap waspada, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor,” pungkasnya. (luk/iza)










