Kudus  

Waspada Hujan Mikroplastik Pemicu Kanker! Siswi SMP Kudus Temukan Penangkal Alaminya

Siswi SMP 2 Kudus Raih Emas OPSI 2025

BANGGA: Siswa SMP 2 Kudus, Raisya Aydinahza Habibi bersama pendamping M. Noor Faizin. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

PROGRAM Lomba Peneliti Siswa Indonesia (OPSI) yang kini berada di bawah naungan BRIN kembali melahirkan talenta muda berbakat. Ajang yang dulunya dikenal sebagai Lomba Peneliti Remaja (LPR) ini menjadi wadah pengembangan minat riset bagi siswa SMP dan SMA di seluruh Indonesia.

Pada penyelenggaraan tahun 2025, animo peserta sangat tinggi. Tercatat 1.678 pendaftar, dengan 1.200 proposal masuk. Setelah melalui proses penilaian ketat, hanya 840 laporan yang dinyatakan layak direview, dan dari jumlah tersebut, terpilih 25 finalis tingkat nasional untuk kategori SMP IPA.

Salah satu finalis yang berhasil mencuri perhatian adalah siswa SMP 2 Kudus, Raisya Aydinahza Habibi (Raisya), kelas IX. Dalam persaingan yang sangat ketat, karena kategori ini hanya meloloskan satu tim per sekolah, Raisya berhasil meraih Medali Emas OPSI 2025.

Penelitiannya mengangkat topik yang sedang menjadi perhatian nasional, yakni bahaya paparan microplastik. Studi yang ia lakukan berfokus pada pemanfaatan daun dewa, tanaman herbal kaya flavonoid, untuk menurunkan risiko kerusakan akibat paparan microplastik.

Raisya menjelaskan, isu microplastik tengah menjadi perhatian global dan banyak diteliti oleh para peneliti BRIN. Bahkan, hujan yang turun pun kini mengandung microplastik yang berisiko memicu kanker.

PROSES: Penelitian terhadap daun dewa yang dilakukan Raisya, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Dalam risetnya, Raisya membagi objek penelitian ke empat kelompok yakni tanpa perlakuan, paparan microplastik, microplastik plus ekstrak daun dewa dosis kecil, microplastik plus ekstrak daun dewa dosis besar.

“Selama 14 hari, kadar MDA (penanda stres oksidatif) diamati. Hasil uji menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan secara statistik, namun kelompok yang diberi ekstrak daun dewa menunjukkan kadar MDA yang mendekati nilai normal, mengindikasikan potensi perlindungan terhadap kerusakan akibat microplastik,” jelas Raisya

Raisa sendiri berharap prestasinya dapat menjadi batu pijakan untuk meraih cita-cita menjadi dokter dan peneliti di masa depan.

Penelitian berlangsung pada Juli–Agustus 2025 di Integrated Biomedical Laboratories (IBL) Fakultas Kedokteran UNISSULA Semarang, dengan bimbingan guru IPA SMP 2 Kudus, M. Noor Faizin.

Pembimbing, Noor Faizin, menyebut, keberhasilan Raisa tidak lepas dari budaya penelitian di SMP 2 Kudus melalui kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang rutin dilaksanakan setiap Rabu.

“Kerja keras siswa selalu berbuah manis. Disiplin dan ulet sangat penting. Anak-anak seperti Raisa yang punya passion, kreativitas, dan kemampuan problem solving itulah yang dicari Pusprenas,” ujarnya. (iza)