SEMARANG, Joglo Jateng – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, kembali menegaskan pentingnya merawat nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat, terutama di era digital yang penuh dinamika informasi. Ia menilai bahwa perkembangan teknologi membuka peluang besar, namun sekaligus membawa tantangan berupa maraknya hoaks, provokasi, dan ujaran kebencian yang dapat memecah belah masyarakat.
Heri menyampaikan bahwa Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai provinsi yang menjunjung tinggi kerukunan. Namun, perubahan pola interaksi sosial di ruang digital membuat potensi gesekan semakin kompleks. “Toleransi tidak boleh hanya menjadi slogan. Ini harus menjadi karakter yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya (10/12).
Ia menekankan perlunya peran aktif pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta lembaga pendidikan dalam memperkuat literasi toleransi bagi generasi muda. Literasi digital, menurutnya, menjadi kunci untuk membekali masyarakat agar lebih bijak memilah informasi.

“Perbedaan pendapat itu wajar, tapi jangan sampai perbedaan dimanfaatkan untuk memecah persatuan,” tambah Heri.
Heri juga mendorong peningkatan program-program yang mengedepankan kerukunan, seperti forum komunikasi lintas agama, kegiatan budaya, dan dialog kebangsaan yang melibatkan masyarakat secara luas. Ia meyakini, kegiatan tersebut dapat memperkuat hubungan antarwarga dan menekan berkembangnya paham ekstrem yang mengancam persatuan.
Selain itu, Heri menilai bahwa pemerintah perlu memperkuat kolaborasi dengan komunitas akar rumput yang selama ini aktif menjaga harmoni di tingkat desa dan kelurahan. Menurutnya, gerakan toleransi harus lahir dari bawah dan mendapat dukungan dari atas agar bertahan menghadapi perubahan sosial yang cepat.
“Kearifan lokal Jawa Tengah yang menjunjung sikap ramah, santun, dan gotong royong sudah menjadi fondasi kuat. Kita harus memeliharanya agar tidak luntur oleh arus zaman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa DPRD Jateng akan terus mendorong kebijakan yang memperkuat inklusivitas dan mencegah diskriminasi dalam bentuk apa pun. Heri berharap seluruh elemen masyarakat dapat bergerak bersama menjaga harmoni yang telah terbangun selama ini.
“Kerukunan adalah aset terbesar kita. Jika toleransi dijaga, maka rasa aman tumbuh, ekonomi berjalan, dan pembangunan dapat berlangsung tanpa hambatan,” pungkasnya. (adv/gih)










