PATI, Joglo Jateng – Kawasan Bumi Perkemahan Sumber Sentol, Dukuh Misik, Desa Sukolilo, mendadak hijau oleh ratusan pelajar pada Kamis (18/12). Ratusan siswa dari berbagai SMP Negeri di Kabupaten Pati antusias menanam ribuan bibit pohon di lereng Pegunungan Kendeng sebagai upaya mitigasi bencana banjir.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Kendeng Lestari yang diinisiasi oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).
Antusiasme Generasi Muda
Salah satu peserta, Ainaya Salsabila, mengaku sangat senang bisa terlibat langsung dalam aksi lingkungan ini. Siswi SMPN 1 Sukolilo tersebut berharap pohon yang ditanamnya bisa tumbuh subur dan menjaga kelestarian alam.
“Seru bisa menanam dengan teman-teman. Semoga ini bisa mencegah erosi, banjir, dan membuat Pegunungan Kendeng tambah asri,” ungkap Ainaya.
Tanam Ribuan Bibit Buah
Ketua JMPPK, Gunretno, menjelaskan bahwa aksi ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pati. Sekolah-sekolah, khususnya SMP Adiwiyata se-Kabupaten Pati, digerakkan untuk berpartisipasi.
Menariknya, bibit yang dibawa bukan sekadar pohon perindang, melainkan pohon buah yang memiliki nilai ekonomis.
“Anak-anak membawa bibit pohon buah sendiri. Awalnya diperkirakan 150 peserta, tapi semakin berkembang banyak yang ikut. Ada seribuan bibit yang ditanam, mulai dari alpukat, sawo, mangga, matoa, dan macam-macam lainnya,” jelas Gunretno.
Fungsi “Spons” Alami Kendeng
Gunretno menekankan filosofi di balik penanaman ini. Pegunungan Kendeng memiliki fungsi vital sebagai kawasan resapan air. Dengan banyaknya pohon, tanah di Kendeng diharapkan bisa berfungsi layaknya spons yang menyerap air hujan secara maksimal.
“Tujuannya untuk daya serap air atau spons di wilayah Pegunungan Kendeng. Dengan maksimalnya daya serap, maka bencana banjir bisa dicegah,” paparnya.
Selain aspek ekologis, pemilihan bibit buah juga mempertimbangkan aspek kesejahteraan masyarakat sekitar di masa depan.
“Kami juga sempat menanam pohon kepoh dan ringin. Tapi Kendeng ini juga harapan untuk mencukupi kebutuhan hidup, sehingga ditanami buah agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi ke depan,” pungkas tokoh Sedulur Sikep tersebut. (lut/fat)










