Pati  

Diserang Hama Tikus, 90 Persen Lahan Jagung di Wukirsari Pati Gagal Panen

Kondisi tanaman jagung yang rusak parah akibat serangan hama tikus di lahan pertanian Desa Wukirsari, Pati.
KONDISI: Petani Jagung di di Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Pati yang mengalami gagal panen, Minggu (28/12/25). (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Petani jagung di Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, menghadapi situasi sulit akibat gagal panen. Kondisi ini disebabkan oleh serangan hama tikus yang masif dan merusak lahan pertanian warga.

Salah satu petani jagung, Sarlan mengaku lahan miliknya mengalami kerusakan parah. Menurutnya, serangan hewan pengerat tahun ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Akibat kondisi tersebut, ia dan petani lainnya menanggung kerugian biaya modal yang tidak sedikit. Untuk setiap hektare lahan, petani harus mengeluarkan biaya hingga Rp 10 juta yang dialokasikan untuk benih, pupuk, dan perawatan.

”Kerugiannya puluhan juta. Sekarang banyak warga yang terpaksa pergi merantau, cari uang buat bayar utang bank karena di sini sudah tidak ada yang bisa dipanen,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah segera turun tangan memberikan solusi jangka panjang. Penanganan serius diperlukan untuk membasmi hama tikus yang telah melumpuhkan ekonomi warga setempat.

90 Persen Lahan Rusak

Sementara itu, Kepala Desa Wukirsari, Sulistiono membenarkan kondisi tersebut. Ia mengungkapkan, serangan hama tikus sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak 2023, namun intensitasnya mencapai puncak pada tahun ini.

”Tahun 2025 ini puncaknya. Dari awal bulan pertama hingga sekarang masa tanam, serangannya merata hampir di satu desa,” ucapnya.

Berdasarkan data pemerintah desa, sekitar 90 persen dari ratusan hektare lahan jagung di Wukirsari, termasuk lahan Perhutani, dipastikan tidak bisa dipanen. Situasi ini membuat suasana desa menjadi lebih sepi.

Banyak warga memilih merantau ke luar daerah, seperti Kalimantan dan Sumatera. Langkah ini diambil demi mencari nafkah untuk menutup modal tanam yang sebagian besar bersumber dari pinjaman perbankan.

”Kerugian petani rata-rata puluhan juta per hektare. Biaya tanam sendiri bisa mencapai Rp 10 juta per hektare hingga masa panen,” imbuhnya.

Pihak desa telah berkoordinasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) kecamatan terkait masalah ini. Namun, bantuan obat-obatan yang dijanjikan hingga kini belum diterima. Warga dan pemerintah desa berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat agar perekonomian masyarakat tidak semakin terpuruk. (lut/fat)