KUDUS, Joglo Jateng – Ribuan warga memadati rute dari Pendapa Kabupaten menuju kawasan Menara Kudus untuk mengikuti tradisi Laku Banyu Panguripan, Sabtu (3/1). Kirab budaya yang berlangsung khidmat ini merupakan puncak rangkaian peringatan Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus.
Suasana Kota Kretek terasa berbeda di bawah cahaya ribuan obor yang dibawa para peserta. Tradisi ini bukan sekadar arak-arakan, melainkan penegasan identitas Kudus sebagai kota yang lahir dari doa, laku batin, dan spiritualitas para leluhur.
Penyatuan Air dari 554 Sumber Keramat
Ketua Panitia Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Jalil menjelaskan, penggunaan istilah laku dipilih untuk menegaskan makna perjalanan batin. Prosesi ini adalah upaya menghayati kembali tapak spiritual Sunan Kudus saat merintis kota ini berabad-abad silam.
Salah satu keunikan utama tradisi ini adalah air yang dibawa dalam kendi oleh peserta. Air tersebut bukan air sembarangan, melainkan hasil penyatuan dari berbagai sumber mata air keramat, antara lain:
- Air dari 554 punden dan belik di seluruh wilayah Kudus.
- Air dari sumber bersejarah Wali Songo.
- Air dari petilasan Sultan Fatah dan Ibrahim Asmorokondi.
- Air zamzam sebagai penyempurna.
“Air ini menjadi simbol persatuan, keberkahan, dan doa bagi masyarakat Kudus. Kudus lahir dari tirakat dan pengendalian diri, itu yang ingin kami hadirkan kembali,” tuturnya.
Makna Obor dan Dukungan Pemkab Kudus
Selain air, elemen visual yang menonjol adalah obor. Jalil menyebut obor merepresentasikan petunjuk dan pencerahan, merujuk pada kisah Nabi Musa yang menemukan cahaya di tengah kegelapan. Dari nyala api itulah, harapan akan Kudus yang lebih harmonis dititipkan.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris yang melepas langsung rombongan kirab, menyampaikan apresiasi tinggi. Menurutnya, Laku Banyu Panguripan adalah bentuk ikhtiar menjaga jati diri Kudus.
“Tradisi ini memiliki nilai spiritual, budaya, sekaligus sosial. Pemkab Kudus akan terus mendukung agar tradisi ini tetap lestari dan memberi dampak positif bagi pariwisata budaya daerah,” ujar Sam’ani.
Prosesi yang sempat diwarnai gerimis ini tetap berjalan lancar. Bagi masyarakat, Laku Banyu Panguripan bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan bahwa kemajuan daerah tak bisa lepas dari akar spiritualitas. (adm/iza)












