Jepara  

Bukan Sekadar Membaca, Begini Cara Seru Perpusda Jepara Gaet Anak SD

Siswa SD N 2 Krapyak sedang membaca buku bersama di Perpusda Jepara untuk meningkatkan minat baca siswa
MEMBACA: Puluhan SD N 2 Krapyak, Kecamatan Tahunan saat berkunjung ke Perpusda, Kamis (8/1). (HUMAS/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Kabupaten Jepara terus berupaya mendongkrak minat baca siswa sejak dini. Salah satu langkah konkretnya adalah memfasilitasi kegiatan belajar luar kelas seperti yang dilakukan siswa SD N 2 Krapyak, Kecamatan Tahunan, di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jepara, Kamis (8/1).

Dalam kunjungan tersebut, puluhan siswa tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari membaca buku, bermain, hingga berdiskusi bersama di ruang perpustakaan. Kunjungan ini menjadi strategi jitu mengenalkan dunia literasi dengan cara yang menyenangkan di tengah gempuran era digital.

Ruang Belajar Alternatif Ramah Anak

Kepala Diskarpus Kabupaten Jepara, Edy Sujatmiko menegaskan bahwa Perpusda kini bertransformasi menjadi ruang belajar alternatif yang terbuka bagi anak-anak. Menurutnya, kolaborasi aktif antara perpustakaan dan sekolah merupakan langkah strategis untuk menanamkan budaya baca pada siswa sekolah dasar.

“Literasi perlu dikenalkan dengan cara yang menyenangkan supaya anak-anak betah dan tidak merasa membaca sebagai beban,” terangnya saat menerima kunjungan rombongan siswa.

Edy menambahkan, fungsi perpustakaan saat ini tidak hanya sekadar tempat meminjam atau membaca buku. Lebih dari itu, Perpusda Jepara dirancang menjadi ruang aktivitas edukatif yang ramah anak. Pendekatan ini dinilai sangat relevan untuk menjawab tantangan literasi pada era digital yang kian masif.

Transisi Belajar yang Menyenangkan

Sementara itu, Guru SD N 2 Krapyak, Andarini menjelaskan bahwa kunjungan ke Perpusda ini merupakan bagian dari kegiatan kokurikuler sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan pada awal semester dua sebagai bentuk transisi suasana belajar dari tahun 2025.

Program literasi ini dirancang sebagai pelengkap pembelajaran intrakurikuler yang terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran. Andarini menekankan pentingnya pengalaman fisik dalam berliterasi di tengah dominasi gawai.

“Kesadaran literasi perlu terus dikuatkan di era digital. Salah satunya mendorong melalui minat baca buku yang fisik,” ujarnya.

Pihak sekolah mengakui bahwa intensitas literasi siswa masih perlu ditingkatkan. Hal ini tidak lepas dari pengaruh teknologi digital yang turut mengubah pola kebiasaan membaca anak-anak sehari-hari. (oka/gih)