PEMALANG, Joglo Jateng – Angka kasus DBD di Pemalang (Demam Berdarah Dengue) sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang patut diwaspadai para orang tua. Berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, kelompok usia pelajar tercatat menjadi korban paling rentan terjangkit dibandingkan orang dewasa.
Data terbaru mencatat total 116 kasus positif DBD terjadi di wilayah ini. Dari jumlah tersebut, separuh lebih korbannya adalah anak-anak hingga remaja usia sekolah (5-14 tahun). Fakta ini memicu dugaan kuat bahwa lingkungan sekolah menjadi titik rawan penyebaran nyamuk Aedes aegypti.
Didominasi Usia Pelajar
Kepala Bidang P2P Dinkes Pemalang dr. Tetie Aida Wati, melalui Kepala Seksi P2P, Surip menjelaskan detail sebaran kasus tersebut. Meskipun sosialisasi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di tingkat rumah tangga (RT/RW) sudah masif, angka kesakitan pada anak tetap tinggi.
Berikut rincian data kasus DBD di Pemalang berdasarkan hasil pantauan Dinkes:
- Total Kasus: 116 kasus positif.
- Korban Anak (5-14 tahun): 62 kasus (mendominasi).
- Wilayah Tertinggi: Kecamatan Pemalang dan Kecamatan Taman (26 kasus).
“Kita sudah sosialisasi sampai ke tingkat RT yaitu kader PKK RT agar tiap rumah punya satu Jumantik. Tugasnya memantau di bak penampungan air, tetapi kasusnya tetap banyak tahun 2025,” papar Surip.
Penularan Diduga di Sekolah
Tingginya kasus pada usia pelajar memunculkan hipotesis bahwa penularan virus dengue justru terjadi di luar rumah, yakni di lingkungan sekolah. Hal ini mengingat sebagian besar waktu aktif anak-anak dihabiskan di tempat belajar.
Menurut Surip, pengawasan lingkungan sekolah seringkali luput dari pantauan ketat, terutama di area-area lembap yang jarang dijamah.
“Kelemahannya memang di sekolah, kita tidak bisa mengawasi apalagi di toilet siswa,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Dinkes mengimbau seluruh elemen sekolah—mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga tukang kebun—untuk lebih proaktif. Pengecekan rutin terhadap tempat penampungan air dan lokasi rawan genangan harus dilakukan secara berkala.
“Harapannya ke depan masyarakat sekolah bisa paham dan sadar agar cek selalu tempat rawan perkembangbiakan nyamuk, dan segera buang atau rutin menguras agar tidak ada jentik berkembang,” pungkasnya. (fan/sam/fat)










