Ekspor Global Lesu, Kadin Jawa Tengah Alihkan Fokus ke Penguatan Pasar Domestik

Ketua Umum KADIN Jawa Tengah, Harry Nuryanto Soediro. (HAFIFAH NUR CHASANAH/ JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah mengambil langkah strategis merespons tekanan pelemahan ekonomi global yang berdampak signifikan pada sektor ekspor. Asosiasi pengusaha ini memutuskan untuk menggeser fokus strategi bisnis daerah menuju penguatan perdagangan dalam negeri.

Langkah ini dipandang sebagai opsi paling realistis untuk menjaga stabilitas ekonomi regional di tengah ketidakpastian pasar internasional. Perlambatan permintaan dari sejumlah negara mitra dagang utama membuat ketergantungan pada sektor ekspor dinilai semakin berisiko bagi kelangsungan industri daerah.

Ketua Umum Kadin Jawa Tengah, Harry Nuryanto Soediro menjelaskan, dinamika global seperti konflik geopolitik hingga fluktuasi nilai tukar telah menekan daya beli di pasar ekspor tradisional Indonesia. Dampak negatif ini mulai dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di daerah.

”Kita sudah merasakan penurunannya. Beberapa negara tujuan ekspor mengalami kontraksi sehingga permintaan melemah. Karena itu, fokus penguatan perdagangan dalam negeri menjadi pilihan paling rasional saat ini,” ujar Harry saat dikonfirmasi, Minggu (1/2/2026).

Genjot Kerjasama Antarprovinsi

Sebagai langkah konkret, Kadin Jawa Tengah mendorong intensifikasi kerja sama perdagangan antarprovinsi. Kolaborasi dengan daerah lain, terutama yang memiliki kedekatan geografis dan struktur industri yang saling melengkapi, dinilai mampu memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.

Harry menekankan, kerja sama ini lebih dari sekadar transaksi jual beli biasa. Ia membidik terciptanya ekosistem ekonomi yang mandiri.

”Kerja sama antarprovinsi bukan hanya soal jual beli, tetapi membangun sistem yang saling menopang. Ketika ekspor terganggu, jaringan domestik yang kuat bisa menjadi penyangga agar industri tetap berjalan,” jelasnya.

Adaptasi Regulasi Global

Selain memperluas pasar regional, Kadin Jawa Tengah juga menyoroti pentingnya kesiapan pelaku usaha menghadapi regulasi global yang semakin ketat. Isu keberlanjutan (sustainability) dan kejelasan asal-usul bahan baku harus disikapi sebagai peluang transformasi, bukan hambatan.

”Tantangan regulasi internasional harus dijawab dengan pembenahan. Kepatuhan terhadap standar keberlanjutan justru bisa meningkatkan daya saing dan kepercayaan pasar terhadap produk kita,” tegas Harry. (hfh/iza)