PATI, Joglo Jateng – Puluhan hektare lahan bawang merah Pati di Kecamatan Wedarijaksa terpaksa dipanen di tengah genangan air menggunakan terpal, baru-baru ini. Kondisi ini terjadi akibat banjir yang merendam area persawahan, menyebabkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai Rp 4,5 miliar.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Pati, Ratri Wijayanto mengungkapkan, banjir menyebabkan tanaman bawang merah mengalami gagal panen atau puso. Berdasarkan data lapangan, total lahan terdampak mencapai 66 hektare dengan usia tanaman rata-rata antara 20 hingga 54 hari.
“Kerugian yang ditimbulkan cukup besar. Kalau diperkirakan kerugian bisa mencapai Rp 4,5 miliar dari lahan bawang merah saja,” terangnya di Pati.
Sentra Wedarijaksa Terdampak Parah
Ratri menjelaskan, kerusakan terparah terjadi di Kecamatan Wedarijaksa yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil bawang merah di Pati. Genangan air meluas hingga mencakup lima desa di wilayah tersebut.
“Sedikitnya lahan bawang merah ada di lima desa yang terkena dampak banjir. Di antaranya Desa Ngurenrejo, Ngurensiti, Bangsalrejo, Sidoharjo, dan Pagerharjo. Semuanya di Kecamatan Wedarijaksa,” rincinya.
Para petani di Desa Ngurenrejo misalnya, harus berjibaku menyelamatkan sisa panen. Bawang merah yang terendam dipanen lebih awal, lalu diangkut menggunakan terpal mengarungi genangan air menuju lokasi yang lebih kering.
Opsi Solusi Dapur MBG
Menindaklanjuti kondisi darurat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati tengah menjajaki solusi penyerapan hasil panen dini tersebut. Salah satu opsi yang didorong adalah integrasi dengan program Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Pihaknya berharap, bawang merah yang masih layak konsumsi meski dipanen lebih awal dapat diserap untuk kebutuhan dapur MBG. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir kerugian yang diderita para petani bawang merah akibat bencana hidrometeorologi ini. (lut/fat)










