BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Tim Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto merilis hasil kajian lapangan terkait kerusakan sejumlah bangunan di Dusun Tempuran, Desa Karekan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara. Temuan ahli menunjukkan kerusakan tersebut bukan akibat aktivitas manusia, melainkan fenomena alam.
Fakta ini terungkap saat audiensi warga Desa Karekan dengan Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Banjarnegara Tursiman, Asisten Sekda, dan para Kepala OPD di Ruang Rapat Sekda, baru-baru ini.
Fenomena Creeping dan Erosi Sungai
Dosen dan Peneliti Teknik Geologi Unsoed, Dr. Asmoro Widagdo menjelaskan, kerusakan rumah warga disebabkan oleh pergerakan tanah lambat atau creeping. Hal ini terlihat dari pola retakan pada dinding dan lantai yang terjadi secara bertahap, bukan runtuhan tiba-tiba.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tim ahli mengidentifikasi beberapa faktor utama pemicu pergerakan tanah tersebut:
- Erosi Vertikal dan Lateral: Aliran Sungai Merawu menggerus sisi tebing dan melemahkan kaki lereng, menyebabkan sungai bergeser dari alur normalnya.
- Kondisi Geologi: Wilayah tersebut berdiri di atas lapisan batulempung (formasi rambatan) yang mudah bergerak saat jenuh air.
- Tata Guna Lahan: Banyak bangunan warga berdiri sangat dekat dengan tebing sungai tanpa pengaman seperti talud atau bronjong.
- Faktor Air: Tingginya kejenuhan tanah akibat hujan, resapan kolam ikan, limbah rumah tangga, dan deforestasi di hulu sungai.
“Tata guna lahan juga mempengaruhi. Lokasi bangunan warga yang sangat dekat dengan tebing sungai tanpa adanya struktur pengaman seperti talud atau bronjong,” ujar Asmoro.
Bukan Akibat Aktivitas PLTM
Kajian ini sekaligus menjawab keresahan warga terkait dugaan dampak aktivitas pengerukan sedimen di Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Karekan. Tim teknis menegaskan tidak ada korelasi langsung antara aktivitas PLTM dengan kerusakan rumah warga.
“Pengerukan dilakukan secara lokal di area intake dan berada di atas bendungan eksisting. Jaraknya sekitar 1,1 kilometer dari lokasi longsor, sehingga pengaruhnya sangat terbatas,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Pj Sekda Banjarnegara, Tursiman mengingatkan bahwa 70 persen wilayah Banjarnegara merupakan daerah rawan bencana. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang adaptif.
“Perencanaan pembangunan harus fleksibel dan harmoni dengan alam supaya aktivitas sosial ekonomi berlangsung dengan berkelanjutan,” pesannya. (abd/sam/rds)










