YOGYAKARTA, Joglo Jateng – Bagi penggemar acara televisi lokal di Yogyakarta dan Jawa Tengah, sosok Yu Beruk adalah legenda. Kepergian pemilik nama asli Sumisih Yuningsih pada Sabtu (14/2/26) pagi, seolah mematikan suara tawa renyah yang selama puluhan tahun menghiasi layar kaca melalui program Obrolan Angkringan di TVRI Yogyakarta.
Yu Beruk bukan sekadar pelawak tempelan. Di panggung Angkringan, ia sukses membangun personal branding yang sangat kuat: sosok wanita paruh baya yang judhes (galak), ceplas-ceplos, dan kerap menjadi lawan debat yang menyebalkan namun jenaka bagi rekan mainnya.
Karakternya yang antagonis justru menjadi bumbu penyedap yang paling dinanti. Tanpa kehadiran Yu Beruk, obrolan di angkringan terasa hambar. Spontanitasnya dalam melempar parikan (pantun Jawa) dan sindiran halus menunjukkan kecerdasannya sebagai seniman panggung sejati.
Perjalanan Karier Panjang
Jauh sebelum dikenal sebagai bintang televisi, Yu Beruk telah menempuh jalan sunyi sebagai pengabdi seni tradisi. Darah seni mengalir deras dari sang ayah yang juga seniman ketoprak.
Berikut jejak rekam karier almarhumah di dunia seni:
- Awal Karier: Memulai sebagai penari klasik yang luwes.
- Radio: Pernah mengabdi sebagai penyiar di RRI Yogyakarta.
- Panggung: Aktif di Ketoprak, Dagelan Mataram, hingga Uyon-uyon.
- Nasional: Terlibat dalam pementasan Indonesia Kita bersama Butet Kartaredjasa.
Dedikasi Berbuah Prestasi
Budayawan Bambang Paningron menyebut Yu Beruk sebagai seniman dengan pengabdian lengkap. Meski usianya tak lagi muda dan kondisi kesehatannya menurun, ia tetap berusaha tampil prima saat sorot lampu panggung mengarah padanya.
Konsistensinya menjaga marwah dagelan Mataram agar tetap relevan di zaman modern diganjar berbagai penghargaan bergengsi. Di antaranya Anugerah Kebudayaan dari Gubernur DIY (2019) dan Penghargaan Dedikasi Seni Tradisi dari Bentara Budaya Yogyakarta (2023).
Kini, suara cempreng dan omelan khasnya hanya bisa dinikmati lewat arsip rekaman. Selamat jalan, Yu Beruk. (rds)










