Kudus  

Sempat Dihantam Badai, Desa Ngembalrejo Kudus Kini Punya Talut Baru Sepanjang 110 Meter

Talut sungai Kudus di Desa Ngembalrejo pasca diterjang badai siklon tropis.
Talut sungai di Desa Ngembalrejo pasca diterjang badai siklon tropis. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Sisa-sisa material bekas luapan air di bantaran perlahan mulai bersih seiring membaiknya cuaca di kawasan permukiman warga. Setelah sempat dihantam cuaca ekstrem selama hampir sepuluh hari pada Februari lalu, pembangunan talut sungaidi Desa Ngembalrejo akhirnya rampung dikerjakan dan membuat warga kembali bernapas lega.

Pembangunan infrastruktur penahan air ini menjadi angin segar menyusul status darurat bencana yang sempat beberapa kali diperpanjang oleh bupati setempat. Talut sepanjang kurang lebih 110 meter tersebut dibangun untuk memperkuat struktur bantaran dan mencegah air kembali merendam rumah-rumah warga.

Dampak Badai Siklon Tropis dan Tanggap Darurat

Kepala Dusun setempat, Rifa’i menjelaskan, badai siklon tropis yang melanda sejak 9 hingga 18 Februari lalu menyebabkan tanggul sungai di sejumlah titik mengalami rembes hingga jebol. Kondisi cuaca ekstrem tersebut memperparah banjir yang melanda permukiman, terutama di wilayah RT 7 RW 6.

“Sebelumnya kami sudah mengajukan permohonan terkait masalah talut sungai. Pasalnya, talut di wilayah kami itu kebanyakan sudah berumur dan mengalami penurunan kualitas struktur,” kata Rifa’i.

Pascabencana, bantuan penanganan darurat langsung mengalir dari berbagai pihak. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui BPBD membantu menyediakan tanah uruk dan karung, sementara Dinas PUPR mengerahkan dukungan alat berat untuk penanganan awal.

Dukungan BBWS Pemali Juana dan Titik Rawan Tersisa

Selain dari Pemkab, dukungan krusial juga datang dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Instansi ini memfasilitasi alat berat berupa excavator long arm sekaligus memberikan paket pembangunan talut sungai berupa konstruksi batu pasang (batu pasparan).

“Pengerjaan dimulai 31 Januari sampai 25 Februari, total 26 hari. Pembangunan ini difokuskan di Dukuh Boto Kidul, tepatnya di RT 7 RW 6, yang sebelumnya terdampak paling parah,” sebutnya.

Kendati pembangunan sepanjang 110 meter telah selesai, Rifa’i mencatat masih ada sekitar empat titik rawan yang belum tertangani secara permanen. Keempat lokasi yang membutuhkan penanganan tersebut tersebar di beberapa area, yakni:

  • Satu titik di Dukuh Boto Lor RW 5.
  • Satu titik di wilayah RW 1.
  • Dua titik di Dukuh Boto Kidul.

Dengan selesainya infrastruktur baru ini, warga sangat berharap risiko luapan sungai atau banjir bandang dapat diminimalkan di masa mendatang.

“Semoga ke depan kondisi di wilayah Desa Ngembalrejo Kudus lebih aman dan lebih terkendali. Jadi ketika ada banjir besar seperti kemarin, kita sudah siap,” pungkasnya. (uma/fat/rds)