PATI, Joglo Jateng – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati menemukan enam kasus penyakit campak pada awal tahun 2026 ini. Mayoritas penularan infeksi virus tersebut menyerang kalangan anak-anak yang berdomisili di tiga kecamatan berbeda.
Temuan kasus campak di Pati ini menjadi alarm kewaspadaan bagi masyarakat, karena penyebaran penyakit tersebut sangat mudah menular pada kelompok usia di bawah 10 tahun. Munculnya kasus ini sekaligus menyoroti fakta bahwa masih ada anak-anak yang belum menerima kelengkapan imunisasi secara penuh di wilayah tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Pati, Salis Diah Rahmawati membenarkan temuan kasus penyakit menular tersebut. Sebaran kasus meliputi empat pasien di Kecamatan Tayu, serta masing-masing satu pasien di Kecamatan Tambakromo dan Sukolilo.
“Yang positif (campak) ada enam. Tayu, Tambakromo, Sukolilo. Rata-rata usia anak-anak di bawah 10 tahun,” ungkap Salis.
Kenali Gejala Campak pada Anak
Anak yang terjangkit campak akan menunjukkan sejumlah gejala awal yang patut diwaspadai oleh para orang tua. Kondisi tersebut ditandai dengan demam tinggi mencapai 38–40°C, batuk terus-menerus, hidung berair, serta mata merah yang sensitif terhadap cahaya.
Penderita umumnya juga akan merasakan tubuh yang sangat lemas hingga nafsu makan yang menurun drastis. Setelah beberapa hari, tubuh pasien akan memunculkan bintik merah pada kulit atau ruam yang dimulai dari belakang telinga.
“Biasanya mulai dari belakang telinga dan wajah lalu menyebar ke leher, badan, tangan, hingga kaki,” jelas Salis.
Selain itu, penderita kerap mengalami kemunculan bintik putih kecil di dalam mulut yang disebut bintik Koplik. Salis memaparkan, suhu tubuh pasien biasanya tetap tinggi saat ruam tersebut mulai timbul, yang sering kali juga disertai keluhan sakit tenggorokan dan diare.
Pentingnya Vaksinasi MR dan MMR
Merespons kondisi tersebut, Dinkes Pati mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri dan melapor jika menemukan gejala campak anak serupa. Langkah cepat ini dinilai sangat krusial agar rantai penularan di lingkungan masyarakat bisa diputus.
“Pencegahan campak (melalui) imunisasi dengan vaksin MR atau vaksin MMR, cuci tangan dan terapkan etika batuk atau bersin. Hindari juga kontak dengan penderita,” imbaunya.
Masyarakat juga diminta untuk terus menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Sebagai tindak lanjut penanganan, pihak puskesmas di lokasi temuan telah melaksanakan vaksinasi pencegahan.
Dari hasil penelusuran Dinkes, para penderita yang terkonfirmasi positif nyatanya belum mendapatkan imunisasi pencegah infeksi virus secara maksimal.
“Beberapa yang positif campak, setelah kami lihat status imunisasi campaknya, banyak yang belum,” pungkasnya. (lut/rds)










