SEMARANG, Joglo Jateng – Dampak ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga plastik naik drastis di Indonesia hingga menembus angka 30 sampai 80 persen. Kondisi tak terduga ini memberikan tekanan biaya operasional yang sangat berat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah, terutama mereka yang masih bergantung pada kemasan berbahan dasar plastik.
Merespons fenomena tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) angkat bicara. Mereka menyebut lonjakan tersebut murni sebagai imbas dari faktor global, mulai dari terganggunya rantai pasokan bahan baku hingga naiknya harga energi dunia.
Kepala Dinkop UKM Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramiyanto, menjelaskan bahwa dorongan penggunaan kemasan alternatif non-plastik sejatinya sejalan dengan fokus pemberdayaan yang sedang dijalankan instansinya.
Pihaknya mengaku telah proaktif melakukan berbagai bimbingan teknis (bimtek) terkait pengembangan kemasan produk, peningkatan kualitas desain, hingga efisiensi penggunaan bahan baku.
“Kami telah melaksanakan berbagai bimtek terkait pengembangan kemasan produk, termasuk peningkatan kualitas, desain, dan efisiensi penggunaan bahan kemasan guna menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk UMKM,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Joglo Jateng, Kamis (9/4/2026).
Dari rangkaian agenda tersebut, tercatat sudah ada 420 pelaku usaha produktif yang mendapatkan dukungan desain langsung dan pembuatan purwarupa (mock-up) kemasan.
Dorong Diversifikasi dan Ekonomi Hijau
Selain melalui jalur bimtek, para pelaku UMKM Jawa Tengah juga difasilitasi dalam berbagai kegiatan promosi dan pameran. Tujuannya guna mendorong keberanian mereka menggunakan kemasan yang lebih variatif dan menarik minat konsumen masa kini.
“Kami juga mendorong para pelaku UMKM untuk melakukan diversifikasi kemasan, termasuk penggunaan bahan alternatif yang lebih efisien dan tidak bergantung pada plastik,” tambahnya.
Menurut Eddy, dorongan penggunaan kemasan yang ramah lingkungan diharapkan mampu mengarahkan UMKM perlahan beralih ke bahan baku non-plastik.
Upaya transformasi ini diyakini tidak hanya memberikan solusi efisiensi anggaran bagi pengusaha kecil untuk mengurangi produksi sampah anorganik, tetapi juga ampuh meningkatkan nilai jual dan daya saing produk di pasaran.
“Kebijakan ini sejalan dengan arah pembangunan daerah yang mendorong transformasi menuju ekonomi hijau (green economy) melalui pembangunan rendah karbon, ekonomi sirkular, dan pengembangan industri hijau,” pungkasnya. (hfh/iza/rds)










