JEPARA, Joglo Jateng – Ratusan umat Hindu se-Pati Raya menorehkan catatan sejarah baru dalam perayaan Dharma Santi Nyepi 1948 Saka yang difasilitasi langsung di Pendopo Kartini Kabupaten Jepara, Minggu (12/4/2026). Keterbukaan fasilitas pemerintahan untuk kegiatan keagamaan ini menjadi potret nyata tingginya rasa persaudaraan dan toleransi antarumat beragama di kawasan setempat.
Suasana peringatan yang bertepatan dengan momentum Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara ini diliputi rasa bahagia, suka cita, sekaligus kekhidmatan mendalam.
Sebuah momen penuh toleransi terekam jelas ketika waktu menunjukkan pukul 11.40 WIB. Kumandang azan Zuhur dari Masjid Agung Jepara terdengar mengalun syahdu, beriringan dengan prosesi doa bersama yang dilantunkan oleh umat Hindu tanpa sedikit pun mengganggu kekhusyukan satu sama lain.
Acara yang dihadiri jemaah dari Jepara, Pati, Kudus, Rembang, Blora, dan Grobogan ini semakin semarak dengan kehadiran arak-arakan ogoh-ogoh Jepara setinggi 2,5 meter. Ikon budaya ini diarak mengitari jalanan di sekitar area pendopo.
Rumah Kebersamaan Lintas Agama
Bupati Jepara, Witiarso Utomo menyatakan, perayaan Dharma Santi Nyepi untuk pertama kalinya di Pendopo Kartini ini bukan sekadar urusan perpindahan lokasi acara.
Menurutnya, ini adalah penanda sejarah bahwa pendopo kabupaten sejatinya adalah rumah kebersamaan bagi seluruh anak bangsa dan tradisi yang tumbuh di Bumi Kartini.
“Saya tegaskan bahwa pendopo ini bukan hanya ruang pemerintahan. Pendopo ini adalah simbol bahwa pemerintah hadir untuk seluruh warga, tanpa membedakan latar belakang keyakinan,” ucap bupati.
Komitmen toleransi beragama ini dipertegas dengan undangan terbuka bupati bagi penganut agama lain. Ia menegaskan tidak ada sekat pembeda dalam hal dukungan fasilitas maupun perbaikan kelayakan tempat ibadah.
“Bahkan jika umat Buddha, Katolik, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan juga ingin merayakan hari besar agamanya di Pendopo Kartini, saya mempersilakan,” tegasnya.
Pesan Persaudaraan Satu Bumi
Turut hadir dalam kesempatan tersebut jajaran tokoh lintas lembaga, mulai dari Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Tengah Tri Wahono, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Jateng Eko Pujianto, hingga Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jepara Agung Bagus Kade Kusimantara.
Ketua PHDI Jawa Tengah, Tri Wahono menjelaskan, tema perayaan tahun ini adalah Vasudhaiva Kutumbakam yang bermakna ‘Satu Bumi, Satu Keluarga’.
Filosofi tersebut selaras dengan makna ritual ogoh-ogoh yang mengingatkan manusia untuk senantiasa membersihkan unsur negatif dari dalam diri.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai penguat komitmen untuk menjaga persaudaraan, saling hormat, dan bergandengan tangan demi menjaga keberagaman di wilayah kita,” tuturnya. (oka/gih/rds)










