Figur  

Perempuan Bukan Konco Wingking

Anggota DPRD Rembang, Sahningsih. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Bagi Sahningsih, perempuan tidak boleh lagi hanya menjadi konco wingking. Dari kursinya di DPRD Rembang, ia lantang menyuarakan pentingnya perempuan terlibat aktif dalam pembangunan, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga politik.

Tinggal di Desa Plawangan, Kecamatan Kragan, perjalanan Sahningsih bermula dari dunia yang sangat dekat dengan keseharian, dapur, dan usaha rumahan. Berawal dari hobi memasak dan merintis usaha abon ikan tongkol, kini ia dipercaya menjadi anggota Komisi IV DPRD Rembang, yang membidangi pendidikan, kesehatan, kesejahteraan rakyat, dan pariwisata.

Menariknya, dunia politik tidak pernah menjadi mimpinya. “Saya dulu tidak punya mimpi ke politik. Punya toko saja sudah cukup. Tapi tahun 2009 saya diajak teman, akhirnya sampai sekarang terus berjalan,” tuturnya.

Dukungan keluarga dan rekan membuatnya mantap melangkah. Keteladanan para perempuan inspiratif juga menjadi bahan bakarnya untuk terus berjuang. Kini, sebagai wakil rakyat dari Dapil 7 Kragan–Sluke, ia mengemban tanggung jawab besar. Dari total 45 kursi DPRD, hanya lima di antaranya diisi perempuan.

Selain sebagai legislator, Sahningsih juga aktif sebagai anggota Dewan Pengawas Sekolah Kreatif, Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Rembang, serta aktif di Disabilitas Multi Karya. Ia merupakan alumni SMPN 1 Kragan, SMAN 1 Lasem, dan S1 Ekonomi Unissula.

“Ke depan, perempuan harus bisa lebih dari 30 persen di parlemen. Ayo kita mewakili sesama perempuan,” tegasnya.

Fenomena menarik terjadi di dapilnya: terdapat tujuh calon legislatif perempuan yang maju pada periode ini. Hal ini, menurutnya, menjadi tanda bahwa kesadaran perempuan akan politik semakin tumbuh. Namun, ia menegaskan, perjuangan perempuan tidak berhenti pada angka keterwakilan.

“Perempuan bukan hanya sebagai konco wingking. Perempuan harus berpartisipasi membangun bangsa, dimulai dari rumah tangga. Perempuan harus diutamakan,” ujarnya.

Sebagai anggota Komisi IV, Sahningsih vokal memperjuangkan pendidikan dan kesejahteraan. Ia menekankan pentingnya meneladani semangat Raden Ajeng Kartini, terutama dalam akses pendidikan perempuan.

“Di dunia pendidikan, kita belajar dari RA Kartini. Jangan sampai perempuan tertinggal; sejak SD harus sudah didorong,” jelasnya.

Meskipun sibuk sebagai wakil rakyat, Sahningsih tetap menyeimbangkan perannya sebagai ibu dari dua anak. Ia menekankan pentingnya manajemen waktu agar seluruh peran berjalan harmonis.

Kedekatannya dengan masyarakat juga menjadi ciri khasnya. Ia kerap turun langsung ketika warga membutuhkan bantuan, terutama dalam kondisi darurat. Sahningsih turut mendorong pemberdayaan melalui pelatihan keterampilan seperti menjahit dan tata rias, meskipun ia mengakui bahwa program tersebut masih perlu dimaksimalkan. Dalam menyelesaikan persoalan, ia lebih mengedepankan pendekatan kekeluargaan.

Menutup pesannya, Sahningsih memberi dorongan bagi perempuan di era globalisasi. “Perempuan harus cerdas, tidak boleh hanya berpangku tangan. Kita harus melangkah lebih maju. Persaingan ketat, jangan sampai dilecehkan. Perempuan adalah sokoguru,” pungkasnya. (uma/iza)