Kendal  

Sedekah Laut Birusari Kendal, 200 Perahu Nelayan Iringi Larung Sesaji

PROSESI: Iring-iringan perahu nelayan Dukuh Birusari Kelurahan Kalibuntu di acara Sedekah Laut, Minggu (28/6/2026). (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Air mata haru tak terbendung dari sebagian istri dan anak nelayan saat mengikuti prosesi Sedekah Laut di Dukuh Birusari, Kelurahan Kalibuntu Wetan, Kecamatan Kendal, Minggu (28/6/2026). Sebab, untuk pertama kalinya merasakan langsung besarnya ombak di tengah laut, mereka semakin memahami risiko yang dihadapi para nelayan setiap kali mencari nafkah.

Tradisi Sedekah Laut tahun ini diikuti lebih dari 200 perahu nelayan yang berlayar bersama menuju tengah laut untuk mengiringi prosesi larung sesaji. Ratusan kapal yang berbaris di perairan utara Kendal menghadirkan pemandangan khas yang menjadi bagian dari tradisi tahunan masyarakat pesisir setiap bulan Muharam.

Salah seorang anggota keluarga nelayan, Susiati, mengaku suasana di tengah laut membuatnya terharu. Besarnya ombak yang dihadapi selama pelayaran membuat dirinya semakin menyadari beratnya perjuangan para nelayan.

“Kalau ikut sampai ke tengah laut rasanya campur aduk. Baru merasakan sendiri besarnya ombak yang setiap hari dihadapi suami. Kadang tidak terasa air mata keluar. Kami hanya bisa terus mendoakan supaya mereka selalu selamat dan pulang membawa rezeki,” ujarnya.

Selain melarung sesaji, para keluarga nelayan juga menggelar kenduri di atas perahu. Berbagai hidangan seperti ingkung ayam, aneka sayuran, hingga buah-buahan dibawa dari rumah untuk disantap bersama setelah memanjatkan doa.

Pemilik Perahu Al-Ghazali, Sudarmaji, warga Desa Korowelanganyar, Kecamatan Cepiring, mengatakan Sedekah Laut merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan sekaligus doa agar seluruh nelayan diberikan keselamatan saat melaut.

“Sedekah Laut ini bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan. Kami juga berdoa semoga seluruh nelayan diberi keselamatan saat melaut, hasil tangkapan semakin melimpah, dan cuaca bersahabat sehingga kami bisa mencari nafkah dengan tenang,” katanya.

Menurut Sudarmaji, nelayan tradisional saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca yang sulit diprediksi hingga kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk operasional melaut.

Di daratan, rangkaian Sedekah Laut turut dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian Barongan yang digelar secara swadaya oleh para nelayan Birusari. Warga juga memanfaatkan momentum tersebut untuk membuka lapak UMKM yang ramai dikunjungi masyarakat.

Warga setempat, Saifudin, menilai Sedekah Laut telah menjadi identitas masyarakat pesisir Birusari sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi warga.

“Sedekah Laut bukan sekadar tradisi. Ini sudah menjadi identitas masyarakat pesisir Birusari. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga menghidupkan kampung karena banyak warga berjualan dan banyak pengunjung yang datang setiap tahun,” tandasnya. (ags/ree/rds)