Meski demikian, Hanung mengakui masih banyak pemikiran Kartini yang belum sempat dimasukkan ke dalam film karena keterbatasan durasi.
Ia berharap, film tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal Kartini lebih mendalam.
Hal ini, kata dia, juga berfungsi untuk lebih menguatkan identitas Jepara. Terutama sebagai kota kelahiran Kartini sekaligus pusat seni ukir dunia.
“Revitalisasi Pendopo Kabupaten Jepara menjadi Museum Kartini perlu terus didorong, dengan tetap mempertahankan nilai sejarah yang melekat pada bangunan tersebut,” ungkapnya.
Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar, menegaskan Kartini bukan hanya tokoh sejarah. Melainkan sosok yang nilai-nilainya masih hidup di tengah masyarakat Jepara hingga kini.
“Di Jepara, Kartini bukan hanya nama seorang pahlawan. Kartini adalah semangat yang terus hidup untuk belajar, berpikir merdeka, dan membuka kesempatan bagi sesama,” kata Hajar.
Ia berharap, pemutaran film tersebut mampu menginspirasi generasi muda untuk meneladani keberanian Kartini. Khususnya dalam berpikir dan membawa perubahan di era modern.
“Kartini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir, bertanya, dan berbuat bagi kemajuan bersama,” ujarnya.
Pemutaran film berlangsung dengan penuh antusias. Ruang teater Museum Nasional dipadati penonton yang mengikuti jalannya cerita hingga usai.
Suasana haru pun menyelimuti ruangan ketika kisah perjuangan Kartini ditampilkan di layar. Momen ini menegaskan bahwa gagasan pahlawan asal Jepara itu masih sangat relevan dan terus menginspirasi lintas generasi. (oka/gih/rds)










