Jepara  

DKPP Jepara Dorong Produsen Kopi Lokal Cantumkan Asal Daerah di Kemasan

SUASANA: Warga Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling saat panen buah kopi di ladangnya, Senin (13/7/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara mendorong para produsen kopi lokal mencantumkan daerah asal produksi kopi pada kemasan produknya.

Langkah itu dilakukan untuk memperkuat identitas kopi Jepara, sekaligus memberi informasi yang lebih jelas kepada konsumen mengenai asal kopi yang mereka beli.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir mengatakan, pencantuman asal daerah tidak akan mengubah merek dagang yang selama ini dimiliki masing-masing produsen.

Nama produk tetap dipertahankan, sedangkan identitas asal kopi ditambahkan pada kemasan.

Misalnya, produk tetap menggunakan merek “Kopi Nusantara”. Tetapi di bagian bawah kemasan diberi keterangan bahwa kopi tersebut berasal dari Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

“Jadi nama produknya tetap. Yang kami dorong adalah asal kopinya dicantumkan dengan jelas,” kata Mudhofir, Senin (13/7/2026).

“Konsumen jadi tahu kopi yang diminum berasal dari mana,” imbuhnya.

Menurutnya, informasi asal kopi menjadi nilai tambah karena setiap daerah memiliki karakter rasa yang berbeda. Dengan begitu, konsumen dapat memilih kopi sesuai selera, sekaligus mengetahui lokasi kebun tempat kopi tersebut diproduksi.

Ke depan, informasi pada kemasan juga dapat dilengkapi dengan cerita singkat mengenai kebun, praktik budidaya, hingga upaya konservasi yang dilakukan petani. Bahkan, tidak menutup kemungkinan disertai titik koordinat lokasi kebun.

“Kalau kebunnya menerapkan konservasi yang baik, itu menjadi nilai tambah. Konsumen sekarang juga mulai memperhatikan bagaimana kopi itu diproduksi,” ujarnya.

Mudhofir menjelaskan, hampir seluruh kawasan lereng Muria di Jepara menjadi sentra perkebunan kopi. Mulai dari Tempur, Papasan, Watuaji, Sumanding, hingga Tanjung.

Namun, mayoritas petani membudidayakan kopi robusta karena lebih sesuai dengan kondisi geografis Jepara. Sementara kopi arabika hanya ditanam di kawasan dengan ketinggian tertentu lantaran membutuhkan perawatan lebih intensif dan biaya yang lebih besar.