Selain mengkritik struktur demokrasi, Tiyo menyoroti budaya feodal yang menurutnya masih mengakar di lingkungan pemerintahan.
Ia menilai demokrasi menempatkan seluruh warga negara dalam posisi setara. Sedangkan feodalisme justru membangun hubungan berdasarkan hierarki dan kedekatan dengan penguasa.
Menurutnya, budaya tersebut memunculkan fenomena mencari kedekatan dengan pemegang kekuasaan demi memperoleh jabatan maupun keuntungan politik. Dalam forum itu, Tiyo juga mengkritik budaya politik yang menurutnya lebih menghargai loyalitas dibanding kompetensi.
“Yang harus dibangun adalah meritokrasi, bukan budaya menjilat. Jabatan seharusnya diberikan karena kemampuan, bukan kedekatan,” tegasnya.
Tak hanya mengulas persoalan politik, Tiyo juga menyoroti perkembangan media sosial yang dinilainya ikut memengaruhi cara masyarakat memandang realitas.
Ia menyebut algoritma media sosial membuat masyarakat semakin mudah terdistraksi oleh berbagai isu, sehingga perhatian terhadap persoalan kebangsaan menjadi berkurang.
“Saya mengajak peserta Maiyah memulai perubahan dari lingkungan terkecil,” ungkapnya.
Menurutnya, tidak semua orang memiliki kesempatan memperbaiki sistem politik secara langsung. Namun setiap warga masih dapat berkontribusi melalui sikap kritis, kejujuran, dan keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
“Sebelum memperbaiki negara, minimal kita jangan ikut terjebak dalam pola pikir yang salah,” ujarnya.
Meski menyampaikan kritik yang tajam terhadap berbagai persoalan pemerintahan, Tiyo menegaskan dirinya tidak mengajak masyarakat kehilangan harapan terhadap masa depan Indonesia.
Ia justru mengingatkan agar masyarakat tidak menggantungkan seluruh harapan kepada para pemegang jabatan semata.
Menurutnya, perubahan bangsa membutuhkan partisipasi masyarakat yang aktif serta keberanian untuk mengisi ruang-ruang yang masih kosong dalam kehidupan sosial.
Ia juga mengajak masyarakat tetap memiliki keyakinan bahwa perubahan dapat terjadi, selama masih ada orang-orang yang berpihak pada nilai kejujuran dan kebenaran.
“Jangan putus asa kepada Indonesia. Kalau kecewa kepada pemerintah itu mungkin saja, tetapi jangan pernah putus asa kepada Allah SWT. Tetap isi ruang-ruang kosong yang bisa kita isi dengan kebaikan,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Tiyo mengibaratkan kehidupan sebagai dialektika antara kebenaran dan kebatilan. Menurutnya, setiap orang mungkin tidak mampu mengubah dunia seorang diri, tetapi setiap orang dapat menentukan keberpihakan moralnya.
“Maka menjadi generasi muda harus berani menyampaikan kritik, menjaga integritas, dan tidak larut dalam budaya mencari keuntungan melalui kedekatan dengan kekuasaan,” pungkasnya. (adm/rds)










