Jepara  

Kisah Effy Retno, Bangkit dari Hilang Pekerjaan hingga Sukses Bangun Brand Pakaian Anak Kenes Lalita

Effy Retno Indarwati (37), owner Kenes Lalita Jepara saat menunjukkan produk bajunya di tokonya, Senin (13/7/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

Dalam proses produksinya, Effy menggandeng lima penjahit rumahan. Ia juga mempekerjakan satu karyawan yang bertugas menjaga toko sekaligus mengelola media sosial.

Baginya, membangun usaha bukan hanya soal mencari keuntungan. Tetapi juga menciptakan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

“Misi Kenes sejak awal adalah bisa bermanfaat untuk banyak orang di sekitar kita,” jelasnya.

“Sedangkan untuk produknya, saya ingin anak-anak tidak sekadar mengenakan pakaian, tetapi mereka bisa tampil sesuai usianya,” imbuh Effy.

Karena itu, ia sangat selektif memilih bahan, motif kain, hingga menentukan warna dan model pakaian. Menurutnya, kualitas harus menjadi identitas utama agar produk lokal mampu memperoleh tempat di hati konsumen.

Meski demikian, membangun kepercayaan masyarakat bukan perkara mudah. Di awal merintis, Effy mengaku sering mendapat respons kurang meyakinkan dari calon pembeli.

Produk lokal kerap dibandingkan dengan merek lain. Terutama apabila dilihat dari sisi harga.

“Kalau saya jualnya banting harga, mereka mau beli. Tapi kalau harga biasa, dengan harga yang sama, mereka bilangnya bisa mendapat pakaian serupa,” ungkapnya.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Effy memilih tetap konsisten menjaga kualitas. Ia meyakini kepercayaan pelanggan tidak dibangun melalui harga murah semata, melainkan dari kepuasan setelah menggunakan produk. (oka/gih/rds)