KUDUS, Joglo Jateng – Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kudus, Firdaus, optimistis pembinaan atletik usia dini di Kabupaten Kudus akan melahirkan generasi atlet yang mampu bersaing di tingkat provinsi hingga nasional.
Optimisme itu muncul setelah melihat antusiasme ribuan pelajar yang mengikuti kompetisi Seri 1 2026 di Kudus.
Menurutnya, penyelenggaraan kejuaraan secara rutin sejak 2024 telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan olahraga atletik.
Tidak hanya memperkenalkan cabang olahraga tersebut kepada pelajar, kompetisi juga menjadi sarana efektif untuk menjaring bibit atlet potensial sejak usia dini.
“Kompetisi yang rutin digelar berhasil mengubah anggapan bahwa atletik merupakan olahraga yang berat menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kami optimistis Kudus sedang menyiapkan generasi atlet baru yang nantinya mampu bersaing di Porprov, Popnas, bahkan tingkat nasional,” ujarnya.
Dia menyebut, PASI Kudus menyiapkan pola pembinaan berkelanjutan bagi atlet-atlet yang menunjukkan potensi selama kejuaraan MilkLife Athletics Challenge Seri 1 2026 digelar Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife.
Para peserta terbaik tidak hanya dipantau saat kompetisi, tetapi diarahkan mengikuti pembinaan intensif agar kemampuan teknik, fisik, dan mental bertanding terus berkembang.
“Tugas kami memastikan atlet-atlet yang terjaring mendapatkan pembinaan secara berkesinambungan serta memiliki kesempatan mengikuti berbagai kejuaraan agar pengalaman bertanding mereka semakin matang,” katanya.
Kemudian, kata dia, kompetisi tersebut digelar pada 15–18 Juli 2026. Kompetisi tersebut diikuti 2.270 pelajar dari 196 sekolah mulai jenjang MI, SD, MTs, SMP, SMA, MA hingga SMK di Kudus dan sekitarnya.
Tahun ini penyelenggara memperluas cakupan pembinaan dengan menghadirkan lima kelompok usia.
“Yakni KU 8, KU 10, KU 12, KU 15, dan KU 18. Sebanyak 23 nomor perlombaan dipertandingkan, mulai dari nomor lari, estafet, lompat, lempar, hingga permainan atletik yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan dasar peserta,” katanya.
Deputy Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation, Welly Arisanto, mengatakan penambahan kelompok usia delapan tahun menjadi langkah mempercepat pembinaan atlet dari level paling dasar.
Selain itu, sejumlah nomor perlombaan juga disesuaikan agar lebih relevan dengan perkembangan fisik anak.
Nomor seperti lari 800 meter dan lompat tinggi diperkenalkan sebagai sarana mengukur potensi dasar atlet, sementara beberapa nomor yang dinilai memiliki risiko cedera lebih tinggi tidak lagi dipertandingkan.
Pada kelompok usia 15 tahun, MTsN 1 Kudus kembali keluar sebagai juara umum setelah mengoleksi tujuh medali emas, tiga perak, dan dua perunggu.










