BANTUL, Joglo Jogja – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan pembekalan leadership dan pelatihan media sosial kepada komunitas Sastra Kulon Progo. Gelaran tersebut terlaksana melalui tim konsultan Public Relations (PR) Inspirator Muda Pembentuk Aksi dan Ciptakan Tujuan (IMPACT), beberapa waktu lalu.
Project Manager IMPACT, Nur Asfia mengungkapkan, proyek konsultan PR ini berawal dari mata kuliah yang membantu komunitas dalam penyelesaian masalah. Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berkoordinasi dengan berbagai pihak yang dianggap relevan.
“Kami berinisiatif untuk membentuk sebuah konsultan hubungan masyarakat. Dengan tujuan menarik perhatian komunitas yang membutuhkan solusi, untuk berbagai masalah yang mereka hadapi,” ungkapnya.
Pihaknya menambahkan, pemilihan Remaja Geblek Bersastra (Regas) sebagai sasaran utama, karena masifnya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda. Hal ini menyebabkan potensi besar pegiat sastra Jawa maupun Indonesia semakin melemah.
“Regas sendiri berpotensi besar untuk melestarikan sastra, terlebih sastra Jawa sendiri mulai tergerus oleh zaman. Sehingga, IMPACT menginisiasi program Waktu Indonesia Berbagi Ilmu (WIBU), untuk meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan media sosial,” imbuhnya.
Lebih lanjut, program WIBU dengan tema Generasi Muda Berdaya Melalui Sosial Media dan Kepemimpinan di Era Society 5.0, mengundang narasumber ahli Program Bumi Scholar, Azmi Fathurahman dan konten kreator Roihan Muhammad.
“Melalui acara ini, harapannya seluruh pihak dapat berkembang kearah kemajuan dan saya mengapresiasi kepada tim. Karena saya sadar apabila tidak dapat berjalan dan berdiri sendiri hingga acara ini terlaksana,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Komunitas Regas, Yuni mengungkapkan rasa bangganya terhadap tim IMPACT dari mahasiswa UAD. Pihaknya berharap dengan adanya kolaborasi tersebut dapat meningkatkan promosi dalam media sosial.
“Senang sekali tim IMPACT memilih Regas untuk berkolaborasi, karena saat ini media sosial sangat diperlukan untuk membranding sebuah komunitas. Apalagi memang kami berlatar belakang dari sastra, yang belum tentu orang banyak tahu apa itu sastra,” paparnya.(cr11/sam)










