BELUT kerap kali disulap menjadi aneka olahan seperti keripik, sambal, mangut, dan lain-lain. Olahan itu, tak jarang diminati orang, karena memiliki citarasa gurih nan enak. Olahan keripik belut misalnya, sekarang ini, menjadi buruan, untuk dimakan sendiri maupun oleh-oleh.
Salah satu warga yang memproduksi kripik belut adalah Wartiyem, warga Klaci II, RT 04, Kalurahan Margoluwih, Seyegan. Ribuan belut ditampung dalam satu kolam besar di rumah Wartiyem. Belut itulah yang menjadi bahan baku pembuatan keripik.
Dalam mengolah, belut yang beberapa diantaranya didatangkan dari Jawa Timur dan Jawa Barat itu dibersihkan, dicuci, diberi bumbu dan dicampur tepung, lalu digoreng. Dalam sehari, warga Klaci II, RT 04, Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman ini mampu memproduksi satu kuintal keripik belut.
Usai digoreng dan dikemas, olahan belut itu, selain di jajakan di showroom rumahnya juga dilapakkan di pasar Kuliner Godean. Bahkan, keripik belut “Citra Rasa” juga dipasarkan hingga ke luar daerah.
Wartiyem mengisahkan, bisnis penggorengan keripik belut dirintis sejak tahun 2001. Tapi sebelum itu, usaha ini berawal dari bisnis keluarga suaminya. Ia sendiri sebenarnya memiliki ketrampilan di bidang jahit-menjahit dan ikut terjun mengembangkan usaha keripik belut setelah hidup bersama suami.
Awal mulanya, kata dia, belum kepikiran produksi. Ia hanya menjadi supplier kebutuhan bahan baku belut di pasar Godean dengan mencari belut di pasar Delanggu, Klaten. Namun, lambat laun, bisnis ini bermasalah karena perputaran uangnya tidak berjalan lancar. Wartiyem memutar otak dan akhirnya memutuskan untuk ikut produksi keripik belut.
“Jadi selain kita mencari ikan belut untuk supplier yang ada di pasar, kita juga mulai ikut-ikutan produksi. Ternyata setelah saya ikut produksi nilai tambahnya beda jauh,” terangnya kepada Joglo Jogja.
Awal mula produksi masih skala kecil. Setiap hari hanya menggoreng belut 10 kilogram dan langsung dijual di pasar Godean. Saat itu, packaging atau kemasan untuk berjualan keripik belut masih sangat sederhana ala kadarnya. Namun, berjalan waktu, Wartiyem mendapat pelatihan dan pembinaan dari dinas mengenai tata cara jualan yang baik dan sehat.
Bahkan ia mendapatkan bantuan etalase untuk berjualan, agar makanan tidak terkena debu. Pembinaan dan bimbingan itu terus dipraktekkan hingga akhirnya omset penjualan perlahan meningkat. Dari semula 10 kilogram belut per hari mulai bertambah menjadi 15 kilogram.
Bisnis terus berjalan. Tekad Wartiyem menjadi produsen keripik belut makin bulat. Ia terus belajar bagaimana keripik belutnya bisa diminati banyak konsumen dan mudah dikenali pelanggan.

Satu di antara cara yang ditekuni adalah membuat keripik belut kecil-kecil dengan adonan tepungnya tipis. Cara ini ternyata berhasil menarik minat konsumen menengah ke atas.
“Kita membedakan, kalau yang di pasaran itu tepungnya agak tebel. Tapi kalau yang konsumen menengah ke atas biasanya tepungnya tipis-tipis,” ungkapnya.
Kini, usaha keripik belut milik Wartiyem dengan bendera “Citra Rasa” berkembang pesat. Setidaknya, ada lima karyawan yang tiap hari bekerja. Jika momen liburan dan penjualan meningkat maka jumlah karyawan yang dikaryakan bisa mencapai 12 orang.
Menurutnya, saat ini untuk produksi harian menyesuaikan dengan pasar. “Kalau pasarnya ramai saya bisa produksi sehari 1 sampe 1,5 kuintal. Rata-rata satu kuintal. Tapi sehari kadang juga 50 kilogram. Saya lihat pasarnya dulu ramai atau tidak. Jika ramai saya nambah tenaga tambahan juga,” imbuhnya.
Dalam menjalankan roda bisnis, Wartiyem sangat menjaga kualitas. Hal itu bisa dilihat dari kualitas bahan baku belut yang diolah dalam keadaan fresh. Bumbu, tepung dan kualitas minyak juga sangat diperhatikan.
Bahkan, penggorengan dilakukan setiap hari sehingga tidak ada produk lama. Setelah digoreng, keripik belut dikemas ke dalam kantong plastik tebal dengan ukuran bervariasi.
Ia mengemas berdasarkan tingkat kualitas. Kualitas pertama dijual dengan harga Rp 190 ribu/kg. Kualitas kedua Rp 175/kg.
Selain keripik belut, Wartiyem juga menjual aneka macam camilan. Seperti keripik sayur maupun keripik tempe. Renyahnya keripik buatan Wartiyem banyak diminati. Terbukti, pengunjung yang datang ke rumahnya ramai bergantian. Bahkan menjadi jujugan bagi wisatawan kereta mini yang silih berganti singgah.
“Selain membeli, mereka juga biasanya penasaran ingin melihat proses membuatnya,” tutupnya. (bam/all)










