Kudus  

Perpusdes Ngembalrejo Galakkan Budaya Membaca

GALI INFORMASI: Salah satu pengunjung perpustakaan Desa Ngembalrejo, Kudus sedang membaca sembari menunggu pelayanan, belum lama ini. (KHAYYA SA’ADATUN NURIS SUROYYA/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Perpustakaan Desa (Perpusdes) Ngembalrejo, berupaya menjadi ruang literasi relevan di tengah arus teknologi digital yang semakin mendominasi. Dengan koleksi lebih dari 1.250 buku, Perpusdes ini terbuka setiap hari dan melayani pengunjung dari berbagai kalangan masyarakat.

Kaur Tata Usaha dan Umum Desa Ngembalrejo, Siti Amindah menyebutkan, perpusdes tidak memiliki pengunjung tetap. Namun rata-rata sekitar 20 orang datang setiap hari ke balai desa dan meluangkan waktu untuk membaca.

“Mereka yang datang, biasanya memanfaatkan waktu menunggu layanan desa. Dengan membuka dan menikmati koleksi buku yang tersedia. Mulai dari fiksi, pertanian, ekonomi, hingga buku keagamaan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ngembalrejo, Moh Zakaria menyampaikan keprihatinannya terhadap menurunnya minat baca di kalangan masyarakat. Terutama generasi muda. Ia menyoroti, kemajuan teknologi digital memang membawa kemudahan.

“Namun jika tidak hati-hati, berisiko menggeser budaya membaca buku yang selama ini menjadi fondasi pengetahuan. Saya ingin mengingatkan, membaca adalah pintu ilmu. Rasulullah sendiri pernah menyampaikan pentingnya membaca,” ungkapnya.

Maka dari itu, pihaknya mengajak seluruh warga untuk kembali menumbuhkan semangat membaca. Ia juga menambahkan, membaca tidak hanya sebatas dari buku cetak. Tetapi juga bisa dilakukan melalui platform digital. Seperti Google atau media daring lainnya.

“Meski demikian, buku tetap menjadi sumber informasi yang paling valid dan teruji. Karena melewati proses penyuntingan dan penerbitan yang ketat. Buku mengajarkan kita banyak hal. Mulai dari ilmu pengetahuan, hingga pengalaman dari para ahli,” imbuhnya.

Pemerintah Desa Ngembalrejo berkomitmen. Untuk terus mendorong budaya literasi. Salah satunya dengan merawat dan memperbarui koleksi buku yang ada. Serta membuka ruang, dengan mengadakan kegiatan baca bersama atau diskusi literasi. (cr9/fat)