MENYUSURI jalanan menuju Desa Wisata Rahtawu, Kecamatan Gebog, tak hanya menghadirkan panorama alam Gunung Muria yang sejuk dan memanjakan mata. Di balik kesejukan itu, terdapat sajian kuliner khas pedesaan yang mampu membawa pengunjung bernostalgia dengan suasana rumah simbah tempo dulu. Adalah sego jagung, menu sederhana nan legendaris yang kini menjadi primadona di warung makan Griyo Kakung, Dukuh Semliro, Desa Rahtawu.
Warung ini berdiri tepat di bawah jalur pendakian menuju puncak 29, salah satu spot populer bagi para pecinta alam. Dari kejauhan, bangunan rumah lawas dengan dinding kayu dan tiang saka kuno langsung menyita perhatian. Begitu melangkah masuk, suasana kian terasa hangat dengan ornamen jadul yang memenuhi setiap sudut. Pengunjung seolah diajak kembali ke masa kecil saat singgah di rumah kakek-nenek di desa.
Pemilik warung, Agung, memang sengaja menghadirkan konsep tersebut. Rumah yang kini difungsikan sebagai tempat makan merupakan peninggalan keluarga secara turun-temurun.
“Tiang saka dan gebyok kayu ini usianya sudah ratusan tahun. Saya mewarisi rumah ini dari enam generasi simbah. Jadi salah satu rumah tertua di Semliro,” ungkapnya.
Dengan atmosfer yang kental nuansa pedesaan, Agung pun memilih menghadirkan menu tradisional yang mulai sulit ditemukan di perkotaan. Sajian utama tentu saja sego jagung, yang bisa dinikmati dalam bentuk murni jagung tumbuk atau campuran dengan beras.
“Kedua pilihan itu sama-sama menghadirkan rasa khas yang membuat kangen siapa pun yang pernah merasakannya,” katanya.

Sego jagung di Griyo Kakung semakin nikmat ketika dipadukan dengan sayur lompong, urap, atau manas ati (sayur lombok). Sensasi gurihnya makin lengkap dengan lauk khas pedesaan. Ada ayam goreng, ndas manyung dengan cita rasa pedas, hingga iwak kali atau ikan sungai segar yang menjadi andalan kuliner Rahtawu.
“Kalau disajikan dengan iwak kali, pas sekali dengan sego jagung. Rasanya otentik dan jarang ada di kota,” ujarnya.
Harga menu di sini pun ramah kantong. Hanya dengan Rp 25 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati sepiring sego jagung lengkap dengan lauk pilihan. Tak hanya itu, sebagai pelengkap tersedia camilan tradisional seperti gethuk nyimut serta secangkir kopi Muria yang sudah melegenda. Perpaduan rasa manis dan pahit kopi khas lereng Muria itu menambah hangat suasana, terlebih saat udara dingin menyelimuti Rahtawu.
Warung Griyo Kakung buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 22.00, kecuali Kamis. Lokasinya yang berada di jalur pendakian membuat tempat ini kerap menjadi persinggahan favorit para pendaki sebelum atau sesudah menaklukkan puncak 29. Tak jarang, wisatawan yang hanya ingin melepas penat juga memilih mampir untuk sekadar mencicipi kuliner ndeso ini.
Salah satu pengunjung asal Jepara, Najwa mengaku puas dengan suasana maupun cita rasa hidangan. “Masakannya enak, tempatnya nyaman, ditambah view puncak Gunung Muria terlihat jelas dari sini. Jadi betah rasanya,” ungkapnya. (adm/iza)










