Kudus  

Akses Kesehatan Mudah dengan Program Speling

LIHAT: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat meninjau program spelling di Kabupaten Kudus yang dikunjungi masyarakat dan para santri, belum lama ini. (ADAM NAUFALDO/ JOGLO JATENG).

KUDUS, Joglo Jateng – Akses layanan kesehatan di Kabupaten Kudus kini semakin dekat dengan masyarakat desa.

Melalui program Spesialis Keliling (Speling), tenaga kesehatan dari berbagai rumah sakit diterjunkan langsung ke desa-desa untuk memberikan pelayanan medis spesialis tanpa perlu menunggu rujukan atau datang ke rumah sakit.

Program tersebut menjadi bagian dari kebijakan Pemprov Jawa Tengah yang digencarkan sejak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025.

Sub Koordinator Pelayanan dan Pembiayaan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kudus, Apri Hadi, mengatakan bahwa program Speling merupakan upaya mendekatkan layanan spesialis ke masyarakat, terutama mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan rujukan.

“Hingga saat ini sudah 14 hingga 15 desa yang mendapatkan layanan Speling. Targetnya seluruh 20 lokus desa akan selesai sampai awal tahun 2026,” jelasnya.

Desa sasaran tersebar di beberapa kecamatan, seperti Dawe, Kaliwungu, Undaan, Jekulo, serta Kecamatan Kota. Pada setiap kunjungan, dokter spesialis dari delapan rumah sakit umum dan tiga RSIA di Kabupaten Kudus diterjunkan sesuai kebutuhan masyarakat di desa tersebut. Ada spesialis penyakit dalam, paru, anak, hingga kandungan.

Program ini disambut antusias warga desa. Setiap pelaksanaan Speling, rata-rata 100 hingga 200 warga hadir untuk mendapatkan pelayanan.

Kelompok sasaran terbanyak di antaranya anak-anak, ibu hamil, lansia, dan warga dengan riwayat penyakit kronis.

“Manfaatnya sangat terasa karena warga bisa langsung mendapatkan konsultasi dan pengobatan dari dokter spesialis. Selama ini keluhan masyarakat minim, justru mereka meminta agar programnya diperbanyak,” katanya.

Koordinasi dilakukan antara puskesmas dan pemerintah desa. Informasi penyelenggaraan diumumkan terlebih dahulu kepada warga, sehingga saat hari pelaksanaan masyarakat langsung mendatangi lokasi layanan.

Untuk desa yang telah menerima layanan Speling yaitu Desa Cranggang sasaran 100, hadir 132, Desa Japan sasaran 100, hadir 94, Desa Kandangmas sasaran 200-an, dan Desa Lau sasaran 50. Lalu ada Desa Margorejo sasaran 100, hadir 128, dan Desa Puyoh sasaran 100, hadir 150.

Lebih lanjut, untuk Desa Kedungsari sasaran 100, hadir 220, Desa Klumpit sasaran 100, hadir 150, Padurenan sasaran 100, hadir 146, dan Pasuruan Lor sasaran 100, hadir 174. Ada Desa Bulung Kulon sasaran 100, hadir 220, dan Desa Bulung Cangkring sasaran 100, hadir 132.

“Juga ada Desa Kaliwungu sasaran 100, hadir 124, Desa Glagahwaru sasaran 100, Kutuk sasaran 100, hadir 150, dan Undaan Kidul sasaran 100, hadir sesuai target,” katanya.

Sementara desa yang masih menunggu giliran adalah Larikrejo, Setrokalangan, Hadipolo, dan Blimbing Kidul. Disisi lain untuk program Speling Jateng diluncurkan bersamaan dengan peringatan HSN 2025 beberapa waktu lalu.

Ke depan, pihaknya berharap program Speling diperluas ke lebih banyak desa dan berjalan rutin, bukan hanya berdasarkan agenda tertentu. Apri menyebut bahwa setelah 20 lokus desa selesai dilayani, evaluasi akan dilakukan untuk menentukan kemungkinan perluasan wilayah layanan.

“Kami ingin masyarakat benar-benar mudah mendapatkan layanan spesialis, bukan hanya saat sakit parah atau harus dirujuk,” tutupnya.

Dengan pendekatan jemput bola seperti ini, Kudus menjadi contoh kabupaten yang serius menghadirkan kesehatan yang lebih dekat, lebih manusiawi, dan dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Baginya, program Speling bukan sekadar layanan kesehatan keliling, namun jembatan nyata menuju pemerataan kesehatan di tingkat desa.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, melepas tim dokter Speling ke 5.479 pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah. Kudus menjadi pusat kegiatan HSN dan lokasi pengecekan perdana pelaksanaan Speling di masyarakat dan pesantren.

“Speling bukan hanya pelayanan kesehatan rutin, tetapi juga bagian dari langkah tracing penyakit menular seperti TBC, penyakit kulit, hingga infeksi lain yang rentan terjadi di lingkungan padat seperti pesantren,” ujar Gubernur Jateng.

Menurutnya, kesehatan santri harus menjadi perhatian utama karena mereka adalah generasi produktif dan calon pemimpin bangsa di masa depan. Dengan pemeriksaan dini, potensi penyebaran penyakit bisa ditekan sejak awal.

“TBC adalah prioritas. Jika ada satu santri yang terindikasi, pesantren harus langsung dilakukan pemeriksaan menyeluruh,” tegasnya.

Menurutnya, program Speling tidak hanya menyasar pesantren, tetapi juga masyarakat umum di desa-desa. Pendekatan ini dinilai sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang inklusif dan merata.

“Warga desa yang memiliki keterbatasan transportasi atau biaya kini tidak perlu jauh-jauh menuju rumah sakit untuk mendapat diagnosis dari dokter spesialis,” pungkasnya. (adm).