SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah akhirnya mengungkap penyebab fenomena kematian ribuan ikan secara massal di pesisir Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Hasil investigasi memastikan insiden tersebut dipicu oleh pembuangan lumpur sisa pembangunan jalan tol di area sekitar kolam retensi.
Kepala DKP Jateng, Endi Faiz Effendi, membeberkan fakta bahwa berdasarkan hasil uji laboratorium, kondisi perairan di lokasi tersebut sudah sangat tidak layak bagi kehidupan biota laut. Tingkat kekeruhan (turbidity) tercatat melampaui angka 143 NTU, jauh di atas baku mutu normal.
“Limbah lumpur sisa pembangunan jalan tol dibuang di lokasi tersebut, menyebabkan kekeruhan sangat tinggi,” jelas Endi saat dikonfirmasi, Selasa (2/12/2025).
Suhu Air Panas dan Oksigen Rendah
Investigasi yang dilakukan bersama DKP dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak di Dukuh Tonosari, Desa Bedono, menemukan fakta lain yang memperburuk keadaan. Suhu air di lokasi tercatat mencapai 32,4 derajat Celsius dengan pH air menyentuh angka 8,3.
Kombinasi mematikan antara suhu tinggi, pH yang mendekati ambang batas atas, serta kadar oksigen terlarut yang rendah, membuat ikan mengalami stres berat hingga akhirnya mati. Endi menegaskan, meski tidak ditemukan indikasi pencemaran kimia akut, kondisi fisik perairan yang tertutup lumpur menjadi faktor utama kematian massal ini.
Wilayah Terdampak Proyek Tol
Area kejadian diketahui berada di sisi proyek strategis Tol Semarang–Demak (Seksi 1 dan 2) yang membentang sepanjang 26,95 kilometer. Menurut Endi, lokasi perairan tempat ikan mati tersebut sebenarnya direncanakan akan berubah menjadi daratan setelah proyek rampung.
“Lokasi itu nantinya menjadi daratan ketika jalan tol selesai, tetapi saat ini nelayan masih memanfaatkannya untuk mencari ikan dan menyandarkan perahu,” ujarnya.
DKP Jateng mencatat kejadian serupa bukan kali ini saja terjadi. Sekitar tiga bulan lalu, pola kematian ikan massal juga dilaporkan di wilayah Sayung akibat penurunan kualitas air yang drastis. (hfh/iza)










