KUDUS, Joglo Jateng — Endapan lumpur tebal yang menyelimuti fasilitas umum di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, menggerakkan IIDI Kabupaten Kudus (Ikatan Istri Dokter Indonesia) untuk turun langsung ke lapangan. Organisasi ini menyalurkan bantuan logistik berupa alat kebersihan dan obat-obatan pada Kamis (15/1).
Langkah ini diambil setelah fasilitas vital seperti Balai Desa dan SD 2 Hadipolo dilaporkan lumpuh total. Aktivitas pelayanan masyarakat dan kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak dapat berjalan akibat sisa material banjir yang menumpuk.
Fokus Pembersihan Sekolah dan Balai Desa
Ketua IIDI Kabupaten Kudus, dr. Hendratni Dewanti menjelaskan, aksi sosial ini merupakan rangkaian pertama dari respons cepat organisasi terhadap bencana banjir di Kudus. Pihaknya sengaja memprioritaskan alat kebersihan dibanding sembako untuk lokasi ini karena kebutuhan mendesak untuk pemulihan fisik bangunan.
“Kami memilih Desa Hadipolo karena kami mendapat informasi bahwa balai desa dan SD 2 Hadipolo terdampak banjir dan belum bisa dipergunakan. Seperti yang kita lihat saat ini, lumpurnya memang cukup tebal,” ujar dr. Hendratni di lokasi penyerahan bantuan.
Dalam aksi kemanusiaan ini, IIDI Kabupaten Kudus mendistribusikan paket bantuan yang spesifik untuk sanitasi dan kesehatan lingkungan, antara lain:
- Alat Kebersihan: Peralatan pel, sapu, dan sikat.
- Bahan Kimia: Cairan pembersih lantai dan desinfektan (SOS).
- Kesehatan: Minyak kayu putih dan obat-obatan ringan.
“Harapannya, setelah dibersihkan, tempat ini tidak hanya bersih secara fisik tetapi juga higienis dan aman dari potensi sumber penyakit,” tambahnya.

Targetkan Dapur Umum PMI dan Wilayah Lain
Selain pemulihan pascabencana di Hadipolo, IIDI Kabupaten Kudus juga merancang strategi bantuan lanjutan. Rencananya, bantuan sembako akan disalurkan melalui dapur umum Palang Merah Indonesia (PMI) yang tersebar di wilayah Mejobo, Undaan, dan Dawe.
Sementara itu, Kepala Desa Hadipolo, Suleman Slamet, menyambut baik inisiatif para istri dokter tersebut. Bantuan ini dinilai sangat tepat sasaran mengingat kondisi sekolah dan kantor desa yang kotor.
“Bantuan ini juga nanti akan saya bagikan ke SD Negeri 2 Hadipolo agar bisa digunakan untuk bersih-bersih sekolah yang terdampak banjir kemarin,” ungkap Suleman.
Suleman menambahkan, meski kondisi umum desa mulai aman, wilayah RW 7 masih menjadi titik terparah. Banjir yang datang berulang kali membuat proses pembersihan menjadi tantangan berat bagi warga.
“Banjir ini datang beberapa kali. Sampai sekarang masih banyak lumpur yang belum bisa dibersihkan. Harapan kami tentu saja semoga banjir ini segera habis dan tidak datang lagi,” pungkasnya. (uma/rds)










