PEMALANG, Joglo Jateng – Proyek perbaikan jalan di Pemalang hingga akhir Maret 2026 belum dapat dilaksanakan secara masif akibat tingginya curah hujan. Kondisi cuaca ekstrem ini memaksa pemerintah daerah menunda pengerjaan infrastruktur demi menjaga kualitas ketahanan aspal.
Penundaan ini tak pelak menjadi perhatian publik, mengingat akses jalan raya yang mulus sangat krusial bagi kelancaran mobilitas dan roda ekonomi warga setempat.
Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro menjelaskan, pertimbangan curah hujan tinggi menjadi alasan utama kebijakan tersebut diambil. Jika perbaikan tetap dipaksakan saat ini, umur jalan diyakini akan lebih pendek dan aspal mudah mengelupas.
Hal tersebut diungkapkan Anom saat melangsungkan sesi wawancara cegat (door stop) setelah menghadiri Rapat Paripurna di Gedung DPRD Kabupaten Pemalang, Kamis (26/3/2026).
Ia menuturkan, progres pembangunan atau perbaikan jalan di wilayahnya terpaksa belum masif dilakukan lantaran musim penghujan masih terjadi secara merata.
“Hampir merata semua hujan, jadi kita mempertimbangkan untuk proyek dilaksanakan setelah hujan mereda,” ungkapnya.
Risiko Aspal Cepat Rusak jika Dipaksakan
Anom memaparkan, secara teknis ideal, pembangunan jalan dengan struktur aspal panas (hotmix) tidak akan berjalan efektif apabila dilakukan tepat pada musim penghujan.
Struktur aspal yang dalam kondisi panas akan mengalami pendinginan tiba-tiba ketika langsung terguyur air hujan. Hal ini memicu munculnya banyak rongga atau kerenggangan pada permukaan material.
Akibatnya, jalan yang baru saja selesai diaspal bisa dengan sangat cepat kembali rusak atau membentuk lubang-lubang baru yang membahayakan pengendara.
“Daya rekatnya lebih rendah jadi ketika sering dilewati kendaraan pasti akan cepat rusak. Setelah cuaca stabil langsung kami (pemkab) kebut pelaksanaan perbaikan di seluruh wilayah,” pungkas Anom. (fan/ree/rds)










