JEPARA, Joglo Jateng – Petani kopi di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, mulai bersiap menghadapi potensi penurunan hasil panen tahun ini.
Cuaca ekstrem yang terjadi pada akhir 2025 lalu diperkirakan berdampak pada produktivitas tanaman kopi, sehingga hasil panen tidak sebanyak tahun sebelumnya.
Salah satu petani kopi di Desa Tempur, Zainuddin (35), mengatakan tingginya curah hujan saat masa pembungaan menyebabkan banyak bunga kopi rontok sebelum berkembang menjadi buah.
“Kondisinya, untuk buah tahun ini agak berkurang. Sebabnya karena faktor cuaca, curah hujannya kemarin kan tinggi, sehingga bunganya kena kabut jadi rontok,” kata Zainuddin saat ditemui di ladang kopinya, Dukuh Duplak, Desa Tempur, Minggu (14/6/2026).
Ia mengatakan, masa panen kopi di Desa Tempur masih akan berlangsung beberapa bulan mendatang. Desa yang berada di lereng Gunung Muria itu dikenal memiliki masa panen lebih akhir dibanding sejumlah sentra kopi lainnya di Jepara.
Menurut Zainuddin, panen raya diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September, saat sebagian besar buah kopi telah matang sempurna.
“Panen kopi perkiraan Agustus sampai September. Di September itu nanti biji kopi sudah merah semua,” ungkap Zainuddin.
Di tengah potensi penurunan produksi, petani juga dihadapkan pada harga kopi yang belum menunjukkan tren kenaikan.
Saat ini harga green bean atau biji kopi hijau berada di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 55 ribu per kilogram. Sedangkan kopi ceri atau kopi yang baru dipanen dijual sekitar Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram.
“Kendalanya karena cuaca ekstrem ya, petani agak merasa rugi karena buahnya berkurang,” ujar Zainuddin.










