Kudus  

Kuliner Kudus Waroeng Kepayon Sajikan Ceker Tulang Lunak Tujuh Rasa

MANTAP: Istri Bupati Kudus, Endah Sam'ani, saat mencicipi kuliner ceker tulang lunak dengan berbagai pilihan rasa di Waroeng Kepayon. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Berawal dari usaha rumahan saat pandemi Covid-19, Waroeng Kepayon di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, kini berkembang menjadi salah satu usaha kuliner yang cukup dikenal di Kudus.

Mengandalkan menu ceker tulang lunak dengan tujuh pilihan rasa, warung milik Indira Maharani (30) itu mampu menarik pelanggan dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, pekerja hingga keluarga.

Indira mulai merintis usahanya pada 2021. Saat itu, ia menjual ceker dari rumah dengan sistem pre-order (PO) dan cash on delivery (COD). Pemasaran dilakukan melalui media sosial dan jaringan pertemanan. Untuk menarik minat pembeli, ia juga menawarkan layanan gratis ongkos kirim.

Pada awal usaha, Indira hanya menjual satu varian rasa ceker tulang lunak. Namun, seiring meningkatnya permintaan pelanggan, ia mulai mengembangkan berbagai racikan bumbu baru.

Dari proses belajar secara mandiri dan bertukar pengalaman dengan rekannya yang berprofesi sebagai chef, lahirlah beragam varian rasa yang kini menjadi ciri khas Waroeng Kepayon.

Saat ini, pelanggan dapat memilih rasa pedas, pedas manis, saus padang, krispi, manis, bakar, dan geprek. Ragam pilihan tersebut membuat produk Waroeng Kepayon mampu menjangkau selera konsumen yang beragam.

“Pelanggan ingin pilihan lebih banyak, jadi kami terus berinovasi menghadirkan rasa baru. Dari satu rasa berkembang menjadi tujuh rasa, tetapi yang paling penting adalah menjaga kualitas agar pelanggan tetap kembali,” katanya.

Selain variasi rasa, daya tarik utama produk ini terletak pada tekstur ceker tulang lunaknya. Berbeda dengan ceker pada umumnya, tulang yang digunakan telah melalui proses presto sehingga empuk dan dapat dimakan.

Untuk menghasilkan tekstur tersebut, ceker dipresto selama kurang lebih dua jam sebelum dimasak kembali dengan bumbu pilihan. Indira menjelaskan, bahan baku yang digunakan berasal dari ayam pedaging karena lebih mudah diperoleh dan memiliki ukuran daging yang lebih besar.

“Keunggulan kami ada pada ceker tulang lunak yang empuk dan bisa dimakan seluruhnya,” ujarnya.