Kudus  

Peringati 10 Muharam, MI Miftahul Ulum 02 Honggosoco Santuni 18 Anak Yatim

KUDUS, Joglo Jateng – Momentum 10 Muharam dimanfaatkan keluarga besar MI Miftahul Ulum 02 Honggosoco untuk berbagi kebahagiaan dengan anak yatim dan piatu, Kamis (25/6/2026). Melalui santunan yang telah menjadi agenda tahunan, madrasah tersebut menyalurkan bantuan kepada 18 anak yatim yang berasal dari lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (25/6/2026) pagi itu diawali dengan istigasah dan doa bersama sebelum dilanjutkan dengan penyerahan santunan secara simbolis kepada para penerima manfaat. Acara digelar mulai pukul 07.00 hingga 08.00 WIB di lingkungan madrasah.

Kepala MI Miftahul Ulum 02, Muhammad Sholihul Huda mengatakan, kegiatan santunan anak yatim merupakan salah satu tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Muharam. Khususnya pada tanggal 10 Muharam yang dikenal sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.

”Tanggal 10 Muharam menjadi salah satu momen yang kami manfaatkan untuk mengamalkan ajaran agama. Sekaligus menanamkan nilai kepedulian sosial kepada peserta didik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dari total 18 penerima santunan, sebanyak 12 anak merupakan siswa MI Miftahul Ulum 02. Kemudian tiga anak berasal dari RA, dan lima anak lainnya merupakan anak yatim yang tinggal di sekitar lingkungan madrasah.

Menurutnya, perluasan sasaran penerima bantuan dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar yang membutuhkan perhatian dan dukungan bersama.

”Biasanya santunan difokuskan kepada peserta didik kami. Namun tahun ini kami juga mengajak anak-anak yatim di sekitar Desa Honggosoco untuk ikut merasakan manfaat kegiatan ini meskipun mereka tidak bersekolah di sini,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, setiap anak menerima santunan berupa uang tunai sebesar Rp 400 ribu. Adapun total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 10.113.000.

Menariknya, seluruh dana yang terkumpul berasal dari partisipasi internal keluarga besar madrasah tanpa bantuan dari pihak luar. Dana tersebut dihimpun secara swadaya sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian sosial warga sekolah.

Alhamdulillah, kegiatan ini murni dikelola secara mandiri. Tidak ada bantuan dari pihak luar. Justru setiap tahun jumlah dana yang terkumpul mengalami peningkatan,” ungkapnya.

Selain memberikan bantuan materi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pendidikan karakter para siswa. Melalui kegiatan berbagi, peserta didik diajak memahami pentingnya empati, kepedulian sosial, serta semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

Sholihul Huda menuturkan, terdapat beberapa tujuan utama dari penyelenggaraan santunan anak yatim tersebut. Selain menjalankan anjuran agama, kegiatan itu diharapkan mampu meringankan beban hidup anak-anak yatim sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial di kalangan peserta didik.

”Kami berharap anak-anak bisa belajar untuk peduli terhadap sesama. Sementara bagi anak-anak yatim, semoga santunan ini dapat memberikan manfaat dan membantu memenuhi kebutuhan mereka,” tuturnya.

Ia berharap tradisi berbagi pada bulan Muharam dapat terus dipertahankan dan berkembang setiap tahunnya, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari kegiatan sosial tersebut. (adm/fat/rds)