WONOSOBO, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo kembali menegaskan komitmennya dalam merawat kerukunan sebagai fondasi utama pembangunan daerah.
Melalui gelaran Grebeg Suran Lintas Agama dan Budaya ke-12 ini membuktikan bahwa keberagaman adalah modal sosial terbesar untuk melangkah maju.
Acara yang berlangsung khidmat di Pendopo Kabupaten Wonosobo pada Rabu (1/7/2026) ini mengusung tema besar “Merawat Kerukunan, Menguatkan Kebersamaan dalam Harmoni Budaya dan Keberagaman”.
Agenda tahunan ini sukses menjadi momentum krusial untuk mempererat persaudaraan antarumat beragama, budayawan, dan seluruh elemen masyarakat.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat menegaskan, masyarakat saat ini telah melompat ke fase yang lebih tinggi. Keberagaman bukan lagi sekadar realitas sosial yang diterima dengan pasrah, melainkan telah menjelma menjadi energi penggerak kemajuan daerah.
Menurutnya, toleransi barulah tahap awal, sementara tujuan akhir yang kini tengah dinikmati warga Wonosobo adalah harmoni.
“Jika dahulu berbicara mengenai toleransi sebagai kemampuan menerima perbedaan, maka hari ini sedang membangun sesuatu yang lebih tinggi, yakni harmoni,” kata Afif.
“Keberagaman tidak lagi sekadar hidup berdampingan, tetapi menjadi kekuatan untuk bekerja sama, bergotong royong, menyelesaikan persoalan bersama, serta menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat. Inilah modal sosial yang harus terus kita jaga sebagai fondasi pembangunan Kabupaten Wonosobo,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial modern, Afif juga mengingatkan seluruh warga untuk tidak lengah.
Nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong harus tetap dihidupkan dalam keseharian agar Wonosobo senantiasa menjadi daerah yang damai, inklusif, dan berdaya saing tinggi.
Ada yang istimewa dalam perhelatan Grebeg Suran 2026 ini. Pemkab Wonosobo secara resmi meluncurkan dan mengukuhkan Paguyuban Perempuan Penggerak Harmoni dan Kerukunan (P3HK) Kabupaten Wonosobo Periode 2026–2027.










