Kudus  

Menelusuri Jejak Sejarah Makam Saudagar Kretek di Kabupaten Kudus

DAHULU KALA: Prosesi sortir hasil produksi dari rumah digudang produksi milik Nitisemito industi kretek Bal Tiga. (DOK.CERITA KUDUS TUWA/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Di balik julukan Kota Kretek, tersimpan kisah para saudagar yang pernah mengubah wajah perekonomian Kabupaten Kudus.

Nama-nama mereka memang tak lagi menghiasi bungkus rokok modern, tetapi jejaknya masih dapat ditelusuri melalui kompleks makam keluarga yang tersebar di berbagai sudut kota.

Bersama komunitas Cerita Kudus Tuwa, Joglo Jateng mengikuti ziarah sejarah menyusuri makam para tokoh kretek Kudus.

Bukan sekadar berdoa, perjalanan ini menjadi ruang untuk membuka kembali lembar-lembar sejarah tentang orang-orang yang membangun industri kretek sejak awal abad ke-20.

Dalam perjalanan itu, peserta menelusuri makam sembilan tokoh besar kretek Kudus. Yakni Nitisemito dengan Bal Tiga, Atmowidjojo dengan Goenoeng Kedoe, Ashadie dengan Delima, Sirin dengan Garbis, dan Nadiroen dengan Gunung Kelapa.

Kemudian ada Roesdi dengan Sogo, Moeslich dengan Tebu Cengkeh, Ma’roef dengan Djamboe Bol, serta M. Wartono dengan Sukun.

Nama pertama yang selalu disebut ketika membicarakan sejarah kretek Kudus adalah Nitisemito.

Lahir dengan nama Rusdi di Kampung Jagalan, ia memulai usaha bersama istrinya, Nasilah, dari sebuah warung kecil. Hingga akhirnya melahirkan merek Bal Tiga yang kemudian menjelma menjadi perusahaan kretek terbesar di era Hindia Belanda.

Founder Cerita Kudus Tuwa, Imam Khanafi mengatakan, Nitisemito bukan hanya sukses sebagai pengusaha, tetapi juga membawa pembaruan dalam dunia pemasaran kretek.

“Nitisemito menjadi simbol bagaimana seorang pribumi mampu membangun perusahaan modern pada zamannya. Cara pemasaran, manajemen perusahaan, hingga jaringan bisnisnya menjadi inspirasi bagi pengusaha kretek setelahnya,” katanya.

Bal Tiga dikenal berani melakukan promosi melalui pasar malam, pameran, undian berhadiah sepeda, hingga menjadi sponsor berbagai kegiatan. Produknya dipasarkan luas dan nama Nitisemito beberapa kali menghiasi surat kabar berbahasa Belanda.

Kesuksesan itu mengantarkan Nitisemito menjadi salah satu saudagar terkaya di Kudus.

Namun, kejayaannya perlahan meredup akibat kebijakan cukai pemerintah kolonial serta persoalan internal keluarga pada dekade 1930-an, hingga akhirnya Bal Tiga berhenti beroperasi.