KUDUS, Joglo Jateng – Perjalanan ziarah ditutup di kompleks keluarga Atmowidjojo, pendiri Cap Goenoeng Kedoe sekaligus salah satu pelopor industri kretek di Kudus.
Dari keluarga inilah lahir sejumlah pengusaha yang kemudian membangun merek-merek besar dan mewarnai perkembangan industri kretek di Kota Kretek.
Cicit Atmowidjojo, Ahmad Yusak menceritakan bahwa buyutnya dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana. Penampilannya bahkan sering membuat orang tidak percaya bahwa ia merupakan pemilik salah satu pabrik kretek terbesar pada zamannya.
“Mbah Atmo itu orangnya sangat sederhana. Banyak orang yang tidak menyangka kalau beliau adalah pemilik pabrik Goenoeng Kedoe karena penampilannya biasa saja,” tuturnya.
Menurut Yusak, kesederhanaan itu justru menjadi warisan nilai yang ditanamkan kepada anak-anaknya. Atmowidjojo tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga menanamkan etos kerja dan jiwa berdagang kepada keluarganya.
“Dari keluarga ini kemudian lahir Ashadie dengan Cap Delima, Sirin dengan Garbis, Nadiroen dengan Gunung Kelapa, Roesdi dengan Sogo, termasuk Moeslich dengan Tebu Cengkeh. Mereka meneruskan tradisi usaha kretek keluarga,” jelasnya.
Putra sulungnya, H.M. Ashadie, mengembangkan Cap Delima setelah belajar langsung dari sang ayah. Ashadie mulai merintis usaha ketika Goenoeng Kedoe tengah berkembang.
Semangat berdagang yang diwariskan keluarga membuatnya tumbuh menjadi salah satu pengusaha kretek yang disegani. Bahkan pada usia muda ia telah menunaikan ibadah haji, sebuah perjalanan yang saat itu menjadi simbol keberhasilan sekaligus memperluas jaringan dagangnya.
Adiknya, M. Sirin, membangun Cap Garbis dan Manggis. Nama Garbis diambil dari buah blewah yang akrab di masyarakat.
Pada dekade 1930-an, namanya mulai muncul dalam surat kabar Hindia Belanda sebagai salah satu pengusaha kretek yang berkembang pesat di Kudus.










