Demak  

Petani Diminta Tunda Jual Bawang Merah

KUMPULKAN: Seorang petani di Desa Pasir, Mijen saat memanen bawang merah, belum lama ini. (AJI YOGA/JOGLOJATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Menjelang panen raya, petani bawang merah di Kabupaten Demak justru dihadapkan dengan anjloknya harga. Karena itu, Dinas Pertanian dan Pangan (Dinpertan) Demak meminta petani tunda jual hasil panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Demak Heri Mulyanta mengatakan, dengan anjloknya harga bawang merah ini, solusi sementara adalah agar petani menunda jual jika harga masih belum stabil. Caranya dengan menyimpan bawang merah yang sudah dikeringkan menggunakan Solar Dryer Dome. Sehingga hasil panen bawang merah tersebut bisa awet sampai berbulan-bulan.

“Kalau kreatif bisa juga diolah menjadi bawang goreng ataupun pasta bawang yang memudahkan industri ataupun para ibu rumah tangga untuk memasak,” katanya saat dihubungi melalui telepon, Selasa (2/11).

Ia mengungkapkan, hasil survei di lapangan, harga jual bawang merah dari petani hanya mentok sampai Rp 8.000 per kilogram. Nominal tersebut tidak seimbang dengan harga bawang merah di Pasar Bintoro Demak di mana pembeli masih harus merogoh kocek antara Rp 24.000 hingga Rp 25.000 per kilogramnya.

“Kami juga menduga ada permainan tengkulak di sini,” ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut Heri, turunnya harga bawang merah di Demak juga akibat surplus. Hasil panen melimpah sementara konsumen masih tetap tidak ada penambahan. “Ditambah cuaca yang kurang menentu. Mungkin juga mempengaruhi kualitas hasil panen,” tuturnya.

Ia memaparkan, di Kabupaten Demak sendiri belum ada semacam komoditas lelang atau asosiasi petani bawang merah yang bisa turut mengontrol pergerakan harga. Penetapan harga masih dilakukan di Pasar Johar Semarang. Mengingat Jawa Tengah adalah penghasil terbanyak, sehingga daerah lain mengikuti kebijakan harga pasar dari Jawa Tengah.

“Besok Rabu (3/11) kami rencanakan ada rakor dengan instansi-instansi terkait. Hasil rakor ini akan kami bawa ke propinsi, agar ditangani lebih lanjut dan para petani bisa mendapat solusi yang reel,” paparnya. (aji/gih)