UMKM  

Manfaatkan Harga Bahan Baku Murah, Widowapi Sukses Berbisnis Bawang Goreng

Produk bawang goreng milik Widowapi. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

PADA awalnya, Widowapi (40), warga Desa Sriwedari, Kecamatan Jaken, kabupaten Pati merupakan supliyer bawang mentah ke berbagai daerah. Sebagai supliyer ada bawang yang dikembalikan atau sisa karena tak sesuai ukuran. Dari situ muncul ide membuat bisnis bawang goreng. Bisnis yang mulai digeluti pada 2020 lalu itu, kini terbilang sukses.

“Idenya awal kita mengisi bawang ke sebuah perusahaan, tetapi bawang yang ukuran kecil hanya 1,6 cm banyak yang dibawa pulang. Karena permintaan pasar berukuran 1,7 cm.  Ketika jual di tempat lain juga laku, tetapi harganya murah. Akhirnya buatlah bawang goreng,” katanya, Senin (9/5).

Produk miliknya tersebut sudah tersebar di berbagai daerah. Penjualan di luar Jawa mulai Sumetra, Jambi, Riau, Banjarmasin, Kalimatan Tengah, Samarinda, Sumatera, Bangkau, Rimbu Bujang. Sedangkan yang di Jawa dari Jakarta, Surabaya, Pare, Nganjuk, Sidoharjo, Ponorogo, Semarang, Demak, dan Porwodadi. Penjualannya sendiri diambil oleh sales dan juga secara online.

“Kalo harganya per kilo Rp 70 ribu, sebelum ada kenaikan minyak goreng seharga Rp 65 ribu perkilonya. Tetapi yang cukup diminati pasar yang kemasan 5 kilo gram, seharga Rp 250 ribu. Sebelum harga minyak harganya Rp 235 ribu,” jelasnya.

Dalam waktu satu hari, dirinya mampu memproduksi bawang goreng siap jual sebanyak 165 kilo hingga 2 kwintal. Menurutnya, permintaan meningkat yakni saat ada hari-hari besar seperti bulan Ramadan. Selain itu, Widowapi saat ini telah memiliki 8 karyawan yang memiliki bidang masing-masing.

“Karyawan ada 8 orang. Dari mulai bagian pencucian, pengupasan, pemotogan, pengulenan, kemudian pengorengan ada 2 orang, skiner lagi satu orang, kemudian proses penirisan di taruh meja pendingin dan masuk proses packing,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, biaya produksi pembuatan bawang goreng setiap hari membutuhkan biaya sekiatar 3 jutaan. Mulai dari membeli minyak goreng, tepung, kayu bakar,  kebutuhan produksi lainnya, dan sekaligus upah para karyawan. Sedangkan alat produksi meliputi mesin mencuci, alat kupas, alat selep atau potong, spiner, penggorengan. (cr7/gih)