KUDUS, Joglo Jateng – Kasus hepatitis akut yang hingga saat ini belum diketahui penyebabnya masih menjadi perhatian di berbagai daerah, tak terkecuali Kabupaten Kudus. Hepatitis tersebut mendapat atensi karena telah menyebabkan korban jiwa. Sebagai langkah antisipatif pencegahan kasus serupa, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mengimbau masyarakat segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan, ketika terjadi gejala.
Kepala DKK Kudus Badai Ismoyo, melalui Staf Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) dr. Amirati menjelaskan, kasus hepatitis akut unknown di Indonesia masih dalam proses penelitian. Sehingga masih belum dapat dipastikan hingga saat ini. Namun demikian, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan tidak panik.
“Dalam kondisi seperti ini, tentu kita harus waspada. Sampai sekarang, kasus yang diduga mengarah ke hepatitis akut unknown masih belum bisa dipastikan. Karena masih dilakukan sequencing. Jadi memang sedang dilakukan penelitian lebih lanjut, virus apa yang menjadi penyebab hepatitis tersebut. Walaupun pasien sudah meninggal, tetapi memang harus dicari tahu lebih lanjut,” jelasnya.
Ketika terjadi gejala seperti diare, nyeri perut, mual dan muntah, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan (faskes) ataupun dokter praktik terdekat. Hal itu dilakukan untuk memastikan bahwa gejala yang dialami mengarah ke hepatitis akut unknown atau tidak.
“Jangan menunggu sampai munculnya gejala utama hepatitis. Seperti mata kuning, kulit kekuningan, urine yang berwarna seperti teh, serta feses yang berwarna putih keabuan. Jangan sampai menunggu seperti itu, karena bisa terjadi penurunan kesadaran karena bisa jadi gangguan perdarahan,” tandasnya.
Sebelumnya, disebutkan bahwa kasus yang terjadi di Jakarta telah mengalami penurunan kesadaran ketika diperiksakan. Hal tersebut yang kemudian menjadi faktor meningkatnya risiko kematian pada pasien.
“Maka dari itu orang tua harus tetap waspada. Sampai saat ini, kasus yang diduga ke arah hepatitis akut memang berusia 16 tahun ke bawah. Tetapi, pada orang dewasa, ketika terjadi gejala serupa, itu tetap perlu dilakukan pemeriksaan,” terangnya.
Sebagai langkah antisipatif penularan hepatitis akut unknown, DKK Kudus mengimbau agar masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain itu, penerapan protokol kesehatan juga harus tetap diterapkan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya penularan.
“Untuk pencegahan, yang terpenting adalah penerapan PHBS. Karena penularan bisa melalui makanan atau alat makan yang terkontaminasi, maupun droplet. Jadi makanan itu memang harus dipastikan matang dan bersih. Kemudian alat makan juga tidak diperbolehkan untuk digunakan bergantian, karena terkadang anak-anak sekolah banyak yang suka saling tukar makanan dan memakai alat makan temannya,” kata Ami.
DKK Kudus telah membuat flyer dan disebarluaskan melalui sosial media, untuk mengampanyekan pencegahan hepatitis akut unknown. Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk meningkatkan kewaspadaan di kalangan sekolah.
“Flyer sudah kami sebarluaskan lewat Instagram dan Facebook. Untuk saat ini memang dari Kemenkes meminta kita untuk setidaknya faskes dan nakes paham tentang hepatitis ini. Jadi ketika nanti terjadi kasus, kita bisa menanganinya dengan cepat. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan juga telah dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan pada sekolah-sekolah terutama SD, TK, dan PAUD,” pungkasnya. (abd/fat)










