Olah Bambu Jadi Produk Bernilai Ekonomis

PERLIHATKAN: Penjaga meubel kerajinan bambu sedang menunjukkan produk buatannya. (AFIFUDIN / JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, salah satunya tanaman bambu. Di Kabupaten Sleman, bambu dimanfaatkan untuk membuat kerajinan yang bernilai ekonomis.

Ketua Sentra Mebel Bambu Sendari, Paidi (54) mengatakan, awal mula Sentra Mebel Bambu Sendari berdiri merupakan hasil pemikiran bersama dari para warga di Padukuhan Sendari.

Sentra Mebel Bambu yang terletak di Padukuhan Sendari, Kalurahan Tirtoadi,  Kapanewon Mlati, ini sudah muncul sejak tahun 1950-an. Menurutnya, mayoritas warga Padukuhan Sendari pada 1997 memiliki profesi sebagai pengrajin bambu.

“Saat itu, kami meminta izin kepada kalurahan setempat untuk bisa memfungsikan tanah kas desa sebagai tempat produksi kerajinan bambu. Tapi, tentu tanah itu kami sewa dengan harga yang murah, “ ungkapnya, Minggu (19/6).

Paidi merupakan generasi kedua dari ayahnya Almarhum Kartodimerjo sebagai pencetak produksi bambu pertama di Padukuhan Sendari pada tahun 1958. Ia mengungkapkan, bahwa saat ini ada sekitar 73 pengrajin bambu yang terdiri dari 15 pemuda dan 58 orang tua pengrajin bambu di Sendari.

Lebih lanjut, hingga kini usaha tersebut masih terus eksis. Bahkan ia pernah diminta untuk menjadi narasumber kerajinan bambu di berbagai negara. Negara Timor Leste, Papua Nugini, Malaysia, Filipina, Korea Selatan hingga Afrika Selatan menjadi negara yang pernah ia kunjungi.

“Tujuannya untuk melatih dan mengajak orang-orang dapat mengolah berbagai jenis bambu menjadi karya atau kerajinan tangan untuk mendongkrak perekonomian. Saya pribadi merasa bersyukur bisa membagi ilmu kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” lanjutnya.

Terkait omzet penjualan kerajinan bambu, ia mengatakan setiap bulannya pengrajin bisa menghasilkan uang senilai Rp 20 hingga Rp 50 juta. Meskipun beberapa kendala juga tetap ia rasakan.

“Kendalanya pasti ada di dalam pekerjaan, salah satunya masalah waktu saat mengerjakan pesanan. Maka dari itu biasanya saya membutuhkan empat orang untuk mengerjakan pesanan, “ pungkasnya. (fif/bid)