Cerita Bagus Kahfi, Bermula dari Salah Sebut Nama hingga Tak Didukung sang Ayah

Dok. Bagus Kahfi (Kiri) melakukan selebrasi bersama rekannya David Maulana (Kanan) setelah mencetak gol pada pertandingan grup A Piala AFF U-18 2019. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng– Pesepak bola asal Magelang, Bagus Kahfi kini tengah menjulang popularitas sebagai striker muda dan sempat membawa timnas Indonesia menjuarai Piala AFF U-16 pada tahun 2018.

Berkat prestasinya pula yang mengantarkan Bagus Kahfi melebarkan karirnya di Eropa bersama klub Eredivisie FC Utrecht. Meskipun tidak bertahan lama, hanya 1 tahun 3 bulan.

Meskipun begitu, Bagus Kahfi masih bertekad untuk melanjutkan karirnya di luar negeri.

Ketika menjadi bintang tamu di channel Youtube Vindes (11/07/22), Bagus Kahfi bercerita jika prestasinya sebagai striker justru berawal dari salah sebut nama.

Waktu itu, ketika mengikuti seleksi nasional dan daftar peserta diumumkan oleh pelatih Fakhri Husaini, terjadi kesalahan penyebutan nama karena sang pelatih belum bisa membedakan Bagus Kahfi dan kembarannya, Bagas Kaffa.

“Seharusnya Bagas yang berada di posisi striker, dan saya sebagai bek kanan, tapi tertukar namanya,” kata Bagus Kahfi.

Kendati ada kesalahan, Bagus Kahfi dan Bagus Kaffa hanya menerima dan menempati posisi sebagaiamana yang diumumkan pelatih.

Bermula dari kesalahan sebut nama itu, Bagus Kahfi justru mampu membuktikan kemampuannya dalam membela timnas Indonesia. Hingga hari ini, Bagus Kahfi masih menjadi striker muda yang diandalkan.

Ayah Bagus Kahfi dan Dorongan Menjadi Crosser

Perjuangan Bagus Kahfi hingga berada di posisi sekarang ternyata sempat tak mendapat dukungan dari sang ayah, Yuni Puji Istiono. Ayah Bagus Kahfi justru menginginkan Bagus Kahfi dan Bagas Kahfa menjadi Crosser.

Dari kecil, Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa sudah diperkenalkan dengan dunia otomotif. Ayah Bagus Kahfi bahkan sampai membelikan Motocross mini ketika dirinya masih berada di taman kanak-kanak (TK).

“Dulu bapak enggak support sama sekali. Bapak saya lebih suka saya dan Bagas menggeluti dunia otomotif,” cerita Bagus Kahfi.

Namun kecintaannya pada sepak bola mendorong Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa untuk terus bermain bola dan masuk Sekolah Sepak Bola (SSB).

Bagus Kahfi juga menceritakan jika sang ayah tidak pernah menonton dirinya dan Bagas bermain bola. Karena masih menginginkan keduanya menjadi Crosser.

Lambat laun, ketika prestasi Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa mulai terlihat, sang ayah luluh. Bahkan ayah Bagus Kahfi menjual Motocross yang dimiliki untuk membeli sepatu bola untuk dirinya dan kembarannya. (en)