KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) RI diketahui telah menemukan 102 obat yang dikonsumsi pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA). Penemuan obat-obatan tersebut merupakan hasil investigasi pemerintah yang dilakukan dengan meninjau langsung ke rumah pasien.
Dalam pemeriksaan dan cek lab yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ditemukan sejumlah senyawa yang terkandung dalam obat sirop yang membahayakan ketika dikonsumsi. Di antaranya, etilen glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) dengan takaran melebihi ambang batas.
Menurut cnbcindonesia.com, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, zat EG dan DEG yang diduga menjadi penyebab gagal ginjal akut di RI, juga pernah mengakibatkan kasus yang sama di India.
“Paling tidak ada lima kejadian penyakit gagal ginjal akut yang berhubungan dengan sirup obat yang terkontaminasi DEG yang terjadi di India dalam rentang tahun 1972 hingga 2019-2020, dan menyebabkan kematian lebih dari 80 korban jiwa,” katanya.
Tak hanya di India, kasus serupa juga terjadi di Gambia, Afrika Barat di tahun 2022 ini. Otoritas negara tersebut juga menduga jika obat batuk asal India yang menyebabkan peristiwa mematikan tersebut.
Meskipun begitu, hingga saat ini, WHO belum memiliki kesimpulan yang pasti keterkaitan kejadian di Gambia dan India terkait kasus gagal ginjal akut tersebut.
“Data klinis yang dibagikan sejauh ini oleh badan dunia tidak cukup untuk menentukan penyebab penyakit,” imbuhnya (cnbcindonesia.com, 23/10/22).
Di Indonesia, kasus gagal ginjal akut misterius yang dialami oleh ratusan anak-anak juga diduga disebabkan oleh senyawa etilen glikol yang terkandung dalam obat dalam bentuk sirup.
Mengacu pada Farmakope dan standar baku nasional, ambang batas aman atau Tolerable Daily Intake (TDI), cemaran EG dan DEG hanya boleh 0,5 mg/kg berat badan per harinya.
Dari 102 obat sirup yang didata oleh Kemenkes RI mengandung EG dan DEG berlebih, ada lima obat berbentuk sirup yang sudah diminta untuk ditarik peredarannya dari pasaran.
Di antaranya, obat demam Termorex Sirup (produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml), obat demam Unibebi Demam Sirup (produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1, kemasan Dus, Botol @ 60 ml), dan obat demam Unibebi Demam Drops (produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1, kemasan Dus, Botol @ 15 ml).
Kemudian, ada pula obat flu dan batuk Flurin DMP Sirup (produksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml) dan obat flu dan batuk Unibebi Cough Sirup (produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml).
Apa itu Etilon Glikol?
Berdasarkan keterangan dari katadata.co.id, Etilon Glikol (EG) merupakan senyawa yang dihasilkan dari reaksi etilen oksida dan air.
Kemudian, senyawa ini berbentuk cair namun kental dan bening, tidak memiliki bau serta mempunyai rasa yang manis. Kombinasi dua molekul etilen glikol membentuk dietilen glikol (DEG).
Senyawa ini berbahaya jika dikonsumsi oleh tubuh. Terutama karena dapat membahayakan kesehatan jantung, ginjal, serta dapat menyerang sistem saraf pusat.
Diketahui, Etilon Glikol (EG) juga terdapat dalam










