KOTA, Joglo Jogja – Dalam rangkaian peringatan HUT ke-76, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta meluncurkan tiga seri prangko Malioboro di Hotel Phoenix Yogyakarta, belum lama ini. Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo mengatakan, prangko tersebut bukan saja sebagai alat bukti pembayaran pengiriman pos. Tapi juga benda filateli untuk mengeksplorasi kekayaan sejarah dan budaya Kota Yogyakarta.
“Melalui lukisan pada prangko ini yang merupakan buah karya pelukis Astuti Kusumo, kami berharap dapat membawa keindahan Malioboro ke dalam rumah-rumah, kantor, dan kolektor prangko di seluruh penjuru negeri, bahkan dunia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam peluncuran prangko itu ada tiga desain, yang menggambarkan Malioboro dari berbagai perspektif. Yakni teras malioboro dengan dinamikanya, Ketandan dengan plurarisme dan keragamannya, serta Ngejaman yang menggambarkan Malioboro sebagai tempat berkumpul masyarakat.
“Prangko seri Malioboro nantinya juga menjadi media promosi efektif untuk Kota Jogja, dengan magnet destinasi wisatanya. Karena prangko punya daya tarik tersendiri bagi para kolektor di Indonesia bahkan di seluruh penjuru dunia,” tambahnya.
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X menyambut baik dan memberikan apresiasi atas diluncurkannya Prangko Seri Malioboro. Dirinya berharap, ikon bersejarah Malioboro akan terus menjadi salah satu magnet kota Jogja yang tak lekang oleh masa.
“Semoga seri prangko Malioboro, dengan lukisan bergaya ekspresionis ini, menjadi produk seni budaya yang lahir dari eksistensi Kota Jogja, serta dapat memperkaya khasanah filateli Indonesia,” jelasnya.
Di sisi lain, Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo, Wayan Toni Supriyanto menyatakan, prangko seri Malioboro memiliki nilai intrinsik dan nominal dan bernilai memorabilia yang menjadi kenangan panjang. Yakni tentang bagaimana mengapresiasi Malioboro sebagai ikon sejarah dan pariwisata Kota Jogja.
“Peluncuran prangko seri Malioboro merupakan momen penting dalam sejarah. Karena menjadi suatu pengakuan akan pentingnya menjaga dan mempromosikan warisan sejarah dan budaya Kota Jogja kepada masyarakat luas agar semakin tertarik menjelajahi keistimewaan Malioboro,” imbuhnya.
Sedangkan pelukis Prangko Seri Malioboro, Astuti Kusumo menceritakan, pembuatan lukisan yang ada di prangko tersebut memakan waktu satu pekan. Sebelumnya juga telah dilakukan kajian mendalam bersama tim ahli yang terdiri dari akademisi, urban desain, antropolog, dan sejarawan.
“Sebagai orang yang tinggal dan berkarya di Kota Jogja, ini merupakan suatu kehormatan bagi saya, untuk bisa memvisualisasikan berbagai perspektif tentang Malioboro melalui tiga lukisan yang menjadi desain Prangko Seri Malioboro, serta satu lukisan yang menjadi sampulnya,” demikian kata Astuti. (cr4/mg4)










